Home / Featured / Dra. N. Eti Fatimah Syafi’i, M.Pd “Mengajar Adalah Ibadah”….!

Dra. N. Eti Fatimah Syafi’i, M.Pd “Mengajar Adalah Ibadah”….!

Bandung, BEREDUKASI.Com — BAGI Dra. N. Eti Fatimah Syafi’i, M.Pd mengajar adalah melakukan ibadah. Karena menurut kepala sekolah SDN 040 Pasawahan Kota Bandung yang menjabat sejak tahun 2012 ini. Mengajar berarti juga sebagai upaya untuk memenej hati. Dimana diperlukan kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi berbagai macam karakter peserta didik.

“Sebagai seorang pendidik, tentu perlu melakukan hal yang terbaik bagi semua siswa. Entah mereka memiliki masalah ataupun masuk ke dalam kategori anak yang nakal. Kita harus menghadapinya dengan sebijak mungkin, untuk memperjuangkan mereka agar tetap tumbuh menjadi anak yang berguna di masa depan,” terang Eti yang pernah mengajar di SDN  Cibadak serta SDN Pajagalan 031 dan 058.

Guru Pendidikan Agama Islam ini juga mengatakan, bahwa ia sangat senang mengajar. Apalagi jika melihat siswa didiknya yang asalnya pendiam, dapat keluar dari zona nyaman. Kemudian meningkatkan minat dan bakatnya, hingga meraih prestasi. Begitupun ketika menyaksikan karakter anak yang semakin baik dari waktu ke waktu.

“Berbicara hal yang saya utamakan adalah, tidak lepas dari visi TASBIH yaitu Takwa Amanah Sehat Berprestasi Inovasi dan Harmonis. Juga Pendidikan Karakter lewat 5S yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan Santun,” terang wanita kelahiran 10 November 1963.

Selain itu Eti juga selalu mengutamakan Budaya Literasi.  Karena dengan Literasi, anak akan semakin cerdas dalam menyikapi informasi. Membuat mereka semakin pintar dalam bidang akademik, berani tampil berbicara dan lain sebagainya.

“Gerakan pembudayaan Literasi juga, membuat anak kian mandiri. Dimana anak diberikan tantangan untuk berkembang, kemauan untuk melihat dunia luar, mengenal teman yang lain dan aktif. Dalam berbagai macam lomba sebagai pengalaman yang berhaga untuk mereka,” ulasnya.

Pemilik dari motto hidup “Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau merubah diri mereka sendiri”.

Eti juga berkata, “Banyak suka duka selama ia mengajar. Jika melihat anak yang sulit diatur dan susah berubah. Tentu menjadi suatu kedukaan. Namun bahagia adalah ketika melihat anak, terus berubah ke arah yang positif”.

“Melihat siatuasi dan kondisi anak saat ini, karena memang sudah ada di jaman global. Maka pembelajaran pun sebetulnya lebih luas, dengan adanya media internet. Informasi dan bahan semakin mudah diakses. Namun ini pun bisa berdampak negatif, jika anak terlalu asyik dengan gadget. Sehingga tidak melakukan sosialisasi dengan teman-teman sekitarnya,” jelasnya.

Eti melanjutkan, bahwa dengan pesatnya arus sosial media. Terkadang anak pun dapat melakukan “bullying” kepada sesama teman, bahkan guru lewat media. Menyikapi hal tersebut tentu butuh penguatan karakter, agar budaya santun dan saling menghargai dapat terwujud.

“Tentu kami pun memiliki rasa tanggung jawab, bahwa sekolah sebagai agen perubahan. Sebagai media komunikatif yang efektif, dalam membangun dan melejitkan potensi dan prestasi siswa,” tandas Eti.

Diakhir perbincangan Eti juga berkata, bahwa ia berharap dapat terus memberikan kemanfaatan untuk Dunia Pendidikan, selaras dengan dedikasinya dalam mengajar. (Tiwi Kasavela)

About admin

Check Also

Komunitas Tari Tetap Tumbuh Subur Dan Jadi Salasatu Alternatif Pengembangan Seni Tari di Indonesia…..!

Jakarta, BEREDUKASI.Com — MESKI gempuran tarian asing merangsek dikalangan milenial, namun komunitas tari tetap tumbuh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *