Published On: Rab, Mar 6th, 2019

Ana Syahbaniarwati, S.Pd.I. , M.Pd., Kepala MA Aliyah Ishlahul Aqidah Cikalong “Terus Berkarya Lewat Buku dan Organisasi”…….!

Share This
Tags

Cikalong, BEREDUKASI.Com — “TERUS Berkarya Tanpa Mengenal Usia” adalah motto dari Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Ishlahul Aqidah Cikalong Wetan Kabupaten Bandung Barat, Ana Syahbaniarwati, S.Pd.I, M.Pd.

Semangatnya dalam berkarya, juga membuat perempuan kelahiran Cimahi, 6 November 1969 ini, telah menghasilkan banyak buku. Diantaranya Antologi Puisi “Untuk Sebuah Nama”, “Rindu Tak Berujung”. Antologi Puisi  “Menghidupkan Ruh Puisi Dalam Jiwa Para Guru, Antologi Essai : Menghidupkan Ruh Dalam Jiwa Para Guru, Cerita Inspiratif : “Dari Nihil Menjadi Berhasil”, Antologi Cerpen Kenangan : “The Moments to Remember” dan Cerita Anak “Detektif Cilik”.

“Saya memiliki harapan bahwa kegiatan Literasi, khususnya membaca menjadi budaya yang bisa dilakukan dimana saja baik di sekolah-sekolah maupun di rumah. Dan tempat–tempat umum dengan tersedianya perpustakaan atau mobil mobil yang menyediakan bacaan  untuk dibaca secara gratis,” ucapnya.

Ana berkata bawa ia bercita-cita untuk memiliki taman bacaan di rumah. Dan ingin bisa membuat taman bacaan di Desa-Desa yang sulit dijangkau dan minim buku bacaan bagi anak anak yang tidak mampu.

“Saya ingin semua lapisan masyarakat giat membaca, menjadikan membaca menjadi kebutuhan setiap hari. Bukankah buku adalah jendela dunia..? Dengan membaca kita bisa mengenal semua yang ada di dunia,” terang lulusan Magister pendidikan bahasa Indonesia IKIP Siliwangi Bandung.

Ana juga bercerita bahwa ia ingin mencerdaskan anak bangsa melalui membaca. Dengan membaca terbuka lebar pintu ke segala arah.

“Saya ingin anak-anak yang hidup di kampung dan perdesaan juga, harus menikmati buku bacaan yang bagus dan berkualitas. Agar pengetahuan dan kecerdasan mereka tidak kalah dengan anak-anak yang hidup di perkotaan,”  tandasnya.

Saat ini, Ana menjabat sebagai Kepala Sekolah Paud “Cahaya Bunda” Cikalong Wetan yang merupakan sekolah dari Yayasan keluarga yang di Ketuai oleh suaminya, Yayan Suryana.

“Selain di sekolah saya juga aktif di beberapa komunitas literasi dan penulis.Baik penulis di daerah maupun penulis wanita se indonesia,” ulasnya.

Soal hobi, ia mengatakan bahwa ia menggemari dunia tulis-menulis dan berteater yang ia jalani sejak masa SMA. Dulu ia pun pernah menjuarai menulis tentang ibu pada salah satu radio  di kota kelahirannya semasa SMA.

Mengenai tokoh idola, Ana mengatakan bahwa tokoh idolanya adalah ayahnya sendiri, S.W.Loebis almarhum.

“Karena beliau yang mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dengan apa yang sudah saya dapat. Dan saya punya, beliau juga mengajarkan saya harus bertahan walau keadaan apapun,” tandasnya.

Ana melanjutkan bahwa hidupnya pun selalu terinspirasi oleh suami dan anak-anaknya.

Suaminya yang selalu membuatnya bersyukur dengan apa yang ia punya sekarang. Juga yang membuatnya bisa bertahan hidup hingga saat ini, juga menguatkannya dalam keadaan apapun.

“Anak bagi saya, adalah sumber inspirasi terbesar. Mereka adalah inspirasi yang tak akan pernah ada habisnya dan lekang oleh zaman,” ucapnya ibu dari M.Ariefta Ramadhani Wibiyana dan Maya Almaniar Zulhi Wibiyana.

Adapun makna hidup bagi Ana sangatlah luas. Karena hidup hanya satu kali, oleh sebab itu mempergunakan hidup dengan sebaik-baiknya. Dan membuat kebaikan tanpa pandang bulu, serta tidak pernah berharap balasan dari kebaikan yang ditanam adalah hal yang ia upayakan.

“Hal yang membuat saya selalu bersemangat dalam menjalani hidup adalah keluarga. Tanpa mereka “separuh jiwa saya pergi”..do’a dari mereka lah yg membuat saya hidup, semangat dari merekalah yang membuat saya bertahan dan kuat menjalani hidup yg penuh “trik” dan  “intrik”,” terang bungsu dari enam bersaudara.

Ditanya mengenai warna kesukaan, Ana menjawab bahwa warna merah adalah favoritnya. Karena mempunyai makna berani dalam artian berani menjalani hidup. Apapun yang sudah di gariskan dan dikehendaki oleh Tuhan, meskipun bukan berarti ia pasrah akan takdir. Sebab itu semua bisa dirubah, apabila ada keinginan dari diri sendiri untuk merubahnya.

“Untuk makanan, saya menyukai Combro. Karena Combro penuh dengan sensasi. Parutan singkong nya yang digoreng renyah saat di kunyah, terasa enak dan oncom di didalamnya saat digigit memberi sensasi yang luar biasa,” tambahnya.

Di akhir perbincangan Ana mengatakan bahwa hidup baginya merupakan sebuah perjalan yang akan menuju ke suatu titik untuk menghadap Sang Pencipta.

“Saya yakin setiap perjalanan yang kita susuri penuh dengan rintangan, tapi bagaimana kita menjalani setiap rintangan dengan ikhlas dan sabar,” pungkasnya siang itu. (Tiwi Kasavela)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>