“Terbakar Delusi” Saat Cinta Mengalahkan Logika dan Tatakrama…….!

Bandung, BEREDUKASI.Com — APA yang sesungguhnya benar-benar terlarang di muka bumi ini….? Apakah kehidupan ini membatasi manusia untuk merasakan dan mengaktualisasikan rasa cintanya….?

Pada kenyataanya, kita tidak bisa memutuskan untuk “Jatuh Cinta” kepada siapa, kapan dan dimana….!

Sebab cinta tak pernah mengenal aturan, batasan maupun tatakrama.

Begitu juga apa yang dirasakan oleh Phia Lin Veloso yang digambarkan dalam Novel yang berjudul “Terbakar Delusi” buah karya ketikan nurani yang dituangkan dalam karya tulis seorang Tiwi Kasavela.

Phia adalah seorang gadis cantik, yang berprofesi sebagai Artis dan Supermodel. Namun entah bagaimana, tiba-tiba ia jatuh cinta kepada Vann, salaseorang pria dewasa yang telah memutuskan jalan hidupnya sebagai Biksu.

“Semua dimulai ketika Phia yang sedang mengalami Depresi, karena menunggui ibunya yang terkena sakit kanker di rumah sakit. Kala itu, tatapannya bertemu dengan mata seorang pria yang menyiratkan rasa hangat dan keteduhan. Lalu, tatapan itu menjadi kisah panjang yang mengikat hidupnya. Karena tatapan itu pula, telah melahirkan perasaan cinta,” terang Tiwi Kasavela gadis kelahiran, Bandung 5 Oktober 1994 ini.

Meski seorang Biksu harus “Selibat” atau tidak boleh menikah. Juga keadaan yang membuat mereka terpisah oleh  jarak, ruang dan waktu. Tetapi Phia tidak bisa menghentikan cintanya. 

Di “Segmen” yang lain, Phia pun sempat bertemu dengan seorang Desainer kelas dunia, bernama Kim yang sohor, baik hati, berprestasi dan mapan. Namun hal itu pun tak dapat menggoyahkan perasaanya kepada Vann.

“Novel ini merupakan hasil refleksi, pencarian jati diri dan terinspirasi dari seorang Biksu Berjubah Merah Tua yang pernah saya kenal,” jelas Tiwi.

Novel yang dibuat pada tahun 2017 ini, sangat kental akan narasi emosi yang dalam bertalian dengan cinta, hasrat dan gairah yang membara untuk memiliki seseorang.

Bukan hanya tentang cinta, Novel ini juga mengulas tentang beberapa hal seputar “Buddhisme”, aturan Biksu, pandangan Buddha tentang hidup, penderitaan, kemelekatan, meditasi, hukum karma, tumibal lahir yang diambil dari perspektif pribadi dari pengalaman Penulis.

Secara tidak langsung, novel ini juga membahas tentang mengapa cinta tak selalu berselaras dengan kebahagiaanm….? Mengapa penderitaan ini perlu tercipta….? Bagaimana cara yang elegan dalam menyikapi hidup….? Dan apa yang terjadi, jika hasrat terlalu membabi buta hingga mengalahkan logika….?

“Saya berharap bahwa Novel ini selain bisa menghibur, juga dapat memberikan inspirasi kepada pembacanya. Tentang sisi lain dalam menyikapi hidup dan segala penderitaan yang ada di dalamnya,” tutupnya malam itu. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.