FeaturedPemerintahanTNI/Polri

Sekjen Kementan, Mengajak Santri Bangun Nasionalisme Lewat Ketahanan Pangan

BANDUNG, BEREDUKASI.COM — SEKRETARIS Jenderal Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. Suwandi, M.Sc. Menegaskan pentingnya peran Santri dan Generasi Muda, dalam menjaga ketahanan pangan sebagai bagian dari bela negara dan cinta tanah air.

Hal itu disampaikan Suwandi saat hadir dalam kegiatan “Siliwangi Santri Camp 2026” di Mako Rindam III/Siliwangi, Jalan Manado, Kota Bandung, Sabtu, 18 April 2026.

Menurut Suwandi, ketahanan pangan memiliki hubungan erat dengan Ketahanan Nasional. Ia menyebut, bangsa yang mampu mencukupi kebutuhan pangannya akan memiliki fondasi kuat untuk menjaga stabilitas, kemandirian dan kesejahteraan rakyat.

“Santri dan anak-anak muda kita harus memahami bela negara dan cinta tanah air. Salah satunya dimulai dari bagaimana mewujudkan ketahanan pangan. Kalau pangan cukup, Ketahanan Nasional akan terjaga,” ujar Suwandi.

Ia mengatakan, pesan mengenai pentingnya pangan bukan hal baru dalam Sejarah Bangsa. Sejak era Presiden Soekarno, pangan telah dipandang sebagai urusan hidup mati suatu bangsa. Karena itu, keterlibatan semua pihak dalam menjaga produksi pangan nasional menjadi hal yang sangat penting.

Suwandi menjelaskan, Kementerian Pertanian saat ini terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah dan kementerian lainnya. Sinergi tersebut diarahkan untuk mendukung target Pemerintah, salah satunya Swasembada Pangan.

Menurutnya, pencapaian swasembada pangan tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Dukungan TNI, khususnya para Babinsa di lapangan, dinilai sangat penting dalam mendampingi petani dan mengawal Proses Produksi di berbagai Daerah.

“Ini semua karena kerja bersama. Presiden, Menteri Pertanian, Wakil Menteri, TNI, Polri, Gubernur, Bupati, semua bergerak serentak dan kompak. Kuncinya adalah sinergi,” katanya.

Selain Swasembada Pangan, Suwandi juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang dinilai memberi dampak langsung terhadap Petani. Menurutnya, program tersebut membuka kepastian pasar bagi hasil produksi petani di Desa.

Ia menyebut, kebutuhan pasokan pangan untuk Program MBG dapat menjadi penggerak ekonomi baru di pedesaan. Dengan adanya Pasar yang pasti, harga hasil produksi petani diharapkan lebih jelas dan petani bisa memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik.

“Pasokan MBG berasal dari pangan Petani kita. Dengan adanya MBG, pasar hasil petani menjadi lebih pasti, harganya jelas dan Petani menikmati manfaatnya,” ucapnya.

Suwandi juga menyoroti pentingnya hilirisasi produk pangan dan pertanian. Ia mengatakan, selama ini banyak produk pertanian masih dijual dalam bentuk mentah. Padahal, jika diolah menjadi produk antara maupun produk akhir, nilai tambahnya akan jauh lebih besar.

Menurutnya, hilirisasi dapat mendorong tumbuhnya industri di daerah, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, serta menekan kemiskinan di pedesaan. Ia juga menilai peningkatan kesejahteraan petani saat ini menjadi salah satu bukti bahwa kerja bersama mulai membuahkan hasil.

Dalam kesempatan itu, Suwandi mengajak para santri untuk menanamkan nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan mencintai produk dalam negeri, menghargai jerih payah petani, dan tidak menyia-nyiakan makanan.

Ia juga mengingatkan para santri agar membiasakan makan secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah diambil. Menurutnya, sikap sederhana seperti itu merupakan bentuk penghargaan terhadap pangan dan kerja keras para petani.

“Setelah pulang dari sini, apa yang disampaikan para narasumber harus ditindaklanjuti. Ini bukan hanya soal pengetahuan, tetapi menanamkan nasionalisme dan cinta tanah air dalam diri santri,” ujarnya.

Suwandi menambahkan, Kementerian Pertanian memiliki sejumlah program pemberdayaan pesantren, termasuk pesantren tani. Program tersebut telah berjalan di berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dengan memanfaatkan potensi lahan yang dimiliki pondok pesantren.

Ia menyebut, banyak Pesantren memiliki potensi besar di Sektor Pertanian, mulai dari Hortikultura, Pangan, Perkebunan, hingga Usaha Sayuran. Beberapa Pesantren bahkan telah memiliki Koperasi dan mampu bermitra langsung dengan Pasar.

“Pondok Pesantren banyak yang punya lahan dan bisa diberdayakan. Ada yang Hortikultura, Pangan, Perkebunan, tergantung potensi Daerah masing-masing. Ini pembinaan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Suwandi, keterlibatan pesantren dalam sektor pertanian dapat menjadi kekuatan baru bagi Ketahanan Pangan Nasional. Selain membangun kemandirian Ekonomi Pesantren, program tersebut juga menjadi sarana Pendidikan Karakter bagi Santri. Agar lebih dekat dengan d
Dunia Produksi Pangan.

Ia berharap, “Siliwangi Santri Camp 2026”, tidak hanya menjadi kegiatan pembinaan sesaat. Juga melahirkan kesadaran baru di kalangan Santri, tentang pentingnya menjaga NKRI melalui kerja nyata, termasuk di Sektor Pangan.

“Ketahanan pangan dan Ketahanan Nasional itu seperti satu koin dua sisi. Pangan adalah perjuangan dan perjuangan itu, membutuhkan kerja keras kita semua,” pungkas Suwandi. (HKS).

Related Articles

Back to top button