FeaturedPemerintahanPendidikanSDSeni BudayaSMP

Refleksi Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Bandung, Soal Masa Depan ‘Bahasa Sunda’

BANDUNG, BEREDUKASI.COM – INI Kekhawatiran akan terkikisnya Bahasa dan Budaya Sunda di kalangan Generasi Muda kembali mengemuka.

Kali ini datang dari seorang Kepala SDN 080 Bojong Indah Kota Bandung. Dalam perbincangan yang mendalam, ia membeberkan Analisis Tajam mengenai penyebab dan solusi atas fenomena yang disebutnya “Mulai Goyahnya” Identitas Kesundaan.

Menurutnya, faktor utama yang menggerus penggunaan Bahasa Sunda adalah Media dan Lingkungan bahasa sehari-hari yang tidak lagi berpihak pada “Bahasa Ibu”.

“Coba kita lihat, Media sekarang adalah pengantar bahasa asing bagi orang Sunda. Di rumah ada Televisi, di sekolah pengantarnya Bahasa Indonesia, di HP dan Media Sosial juga sama. Anak-anak lebih dekat dengan Bahasa yang sehari-harian mereka temui di Media itu. Secara tidak langsung, mereka “Dipaksa” fasih Berbahasa Indonesia,” papar Cecep, selaku Kepala SDN 080 Bojong Indah Kota Bandung.

Ia menyoroti Ironi, di mana banyak Generasi Muda yang justru tidak mampu Berbahasa Daerahnya sendiri.

“Generasi Muda kita luar biasa, tapi kita harus perhatikan. Banyak yang ketika menikah dan berkeluarga, justru tidak menggunakan Bahasa Sunda. Akhirnya, Bahasa ini mati pelan-pelan di Tingkat Keluarga,” tambahnya.

Sekolah Sebagai Benteng Budaya: Antara Harapan dan Kompetensi

Sekolah sejatinya diharapkan menjadi “Benteng Terakkhir Pengenalan Budaya”. Namun, sang Guru menyoroti tantangan besar dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM). Ia merujuk pada masa lalu di mana Lulusan Perguruan Tinggi Seni dan Budaya Sunda, seperti STSI (kini ISBI Bandung), memiliki Peran Vital.

“Tahun 70-80-an, Lulusan Karawitan itu disebar ke Sekolah-sekolah. Mereka mengajarkan Kecapi, Calung, dan Kesenian Sunda lainnya. Bangga sekali rasanya. Sekarang, Guru yang punya Kompetensi di Bidang Seni dan Budaya Sunda, seringkali kurang terakomodasi. Ada Guru Seni Budaya, tapi bisa jadi latar belakangnya bukan dari sana. Ini soal Kompetensi,” tegasnya.

Cecep juga mengajukan harapan konkret kepada Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sebagai Pemegang Otoritas, agar merumuskan terobosan untuk kembali menempatkan para Sarjana Seni dan Budaya Sunda. Lulusan ISBI Bandung atau Perguruan Tinggi lain ke Sekolah-sekolah.

“Tempatkan mereka di tiap Daerah, sebar ke seluruh SD, SMP dan SMA di Jawa Barat. Jangan sampai mereka hanya jadi Tenaga Honorer yang tidak jelas Statusnya. Hargai mereka dengan pengangkatan PNS atau PPPK. Itu baru namanya Keberpihakan,” pinta Cecep dengan penuh harap.

Titik Terang di Tengah Kekhawatiran

Di tengah keprihatinannya, Cecep mengapresiasi upaya Dinas Pendidikan Kota Bandung yang konsisten menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Menurutnya, ajang ini, menjadi Sarana Vital untuk menjaring dan menyalurkan Bakat Peserta Didik di Bidang Bahasa dan Sastra Daerah.

“Alhamdulillah, Dinas Pendidikan Kota Bandung masih konsisten mengadakan FTBI. Ini sarana yang memfasilitasi Bibit-bibit Unggul. Tidak hanya di Sunda lho, ini menjaring dialek Betawi, Jawa hingga Batak. Setiap tahun, ini menjadi wahana untuk menunjukkan bahwa “Berbahasa Ibu” itu membanggakan dan tidak kalah keren,” jelasnya.

Wawancara ditutup dengan seruan agar semua pihak, terutama para Pemangku Kebijakan, memiliki niat dan keberpihakan yang kuat.

“Harus ada niat untuk memuliakan Hak Budaya Warisan Leluhur. Kalau bukan kita yang menyelamatkan, siapa lagi..?,” pungkasnya. (HKS).

Related Articles

Back to top button