20.4 C
Indonesia
Monday, 8 August 2022
spot_img

Awas, Makanan Ultra Proses Tingkatkan Obesitas Serta Beberapa Penyakit Lainnya……..!

Bandung, BEREDUKASI.Com – MAKANAN Ultra Proses, selain murah dan tahan lama, juga diminati karena harganya yang murah. Namun di sisi lain, dapat meningkatkan risiko Obesitas dan sepertiga penduduk Indonesia sudah mengalaminya.

“Upaya bersama dapat dilakukan dengan memperbaiki formulasi makanan ultra proses, memberikan label yang sesuai, hingga regulasi marketing produk kemasan pada anak-anak,” kata Gwyneth Cotes, Country Director Helen Keller International di acara Webinar Forum Bandung Sehat (FBS) bersama Helen Keller International, TP-PKK Kota Bandung, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jawa Barat dan Meds-On dengan tema “Cermat Pangan Olahan Balita” Selasa, (30/3/2021).

Sementara Ketua umum AIMI Indonesia Nia Umar menjelaskan, makanan ultra-proses merupakan makanan yang diolah dengan berbagai cara. Seperti Pemadatan, Karbonasi, Pengocokan, Penambahan Massa, Pemipihan, dan lain-lain.

“Ciri lainnya makanan tersebut mengandung zat yang tidak dijumpai pada bumbu dapur seperti Penstabil, Pengawet, Laktosa dan lain-lain. Risiko dari tingginya konsumsi makanan Ultra Proses ternyata dapat meningkatkan Obesitas, Penyakit Jantung, Diabetes, Kanker dan Depresi,” ucapnya.

Bahaya ini, tidak hanya mengintai orang dewasa, Balita pun terpapar oleh berbagai jenis makanan tersebut, termasuk dari Produk Susu Pertumbuhan.

dr. Dian dari Helen Keller International mengatakan, hampir 80% susu pertumbuhan mengandung tambahan gula (Sukrosa dan/atau Fruktosa) yang tidak sesuai rekomendasi yaitu kurang dari 2,5 gram/100 kkal.

Bila dikelompokkan, sebanyak 3/4 Produk yang memberikan informasi kandungan gula diklasifikasikan memiliki kandungan gula yang masuk kategori MERAH (FSA UK) yaitu mengandung gula tinggi (>11g/100 ml).

Ternyata, hanya 3% Bayi yang memulai MPASI sesuai rekomendasi keragaman makanan yaitu setidaknya 4 jenis dalam sehari. Hal ini diikuti dengan kurangnya asupan Vitamin dan Mineral yang diperlukan oleh Bayi. Konsekuensinya, nemia pada Bayi mencapai 40%.

“Pemberian MPASI Fortifikasi juga berisiko menurunkan keragaman Makan Bayi, ditambah dengan penyajian yang tidak sesuai takaran saji,” pungkas dr. Sofa dari Forum Bandung Sehat dan Nutrition Working Group. (Ris).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU