22.4 C
Indonesia
Sunday, 25 September 2022
spot_img

Cara Menghindarkan Ketergantungan Anak Terhadap “Gawai”……!

Bandung, BEREDUKASI.Com — KEPALA Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), Neti Supriati membagikan sejumlah hal yang harus diperhatikan.

Untuk memulai menerapkan Budaya Literasi kepada anak-anak. Penanaman Budaya Literasi ini, menjadi salasatu alternatif atau cara menghindarkan ketergantungan anak terhadap “Gawai”.

Neti menyatakan, Literasi bukan hanya persoalan membaca ataupun menulis saja. Namun, mengolah informasi sebelum disampaikan juga sudah menjadi aktivitas Literasi.

Neti menuturkan, untuk menumbuhkan Budaya Literasi. Dapat dilakukan secara bertahap. Sekalipun usia emas anak pada rentang waktu 0-6 tahun, namun tak lantas bisa sembarangan dipaksakan.

“Harus ada tahapan cara menyampaikan informasi, termasuk di Golden Age itu ada tahapannya. Seperti usia 2-3 tahun itu, tidak bisa diajak membaca menulis seperti orang dewasa. Tetapi diajarkan mengenal simbol dan gambar dalu,” kata Neti, pada acara Bandung Menjawab di Ruang Media Balai Kota Bandung, Jl. Wastukancana, Selasa (5/11/19).

Setelah mengenal simbol, lanjutnya, merupakan waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan membaca, menulis dan berhitung (Calistung). Karena di penghujung usia emas tersebut, syaraf motorik anak beranjak semakin matang.

“Ketika anak dipaksakan untuk membaca, maka anak itu akan terjadi strees. Karena fungsi dari sarafnya belum matang. Maka akan lebih matang untuk itu di usia sekitar 6-7 tahun,” terangnya.

Neti memaklumi apabila ada temuan dari Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Bandung yang menyatakan. Bahwa 15 persen siswa di salasatu PAUD masih belum fasih Calistung.

“Perlu kita pahami, dalam satu PAUD ada 100 anak 15 persennya itu belum mengenal baca tulis. Itu wajar, karena di usia anak PAUD baru mengenal simbol saja,” tegasnya.

Lebih lanjut Neti memaparkan, untuk mulai menumbuhkan kebiasaan Literasi juga memperhatikan. Agar anak memiliki ketertarikan. Sebagian besar faktor yang mendukung anak bisa tertarik Literasi, datang dari lingkungan keluarga.

“Banyak faktor anak tertarik atau tidak. Pertama ada faktor keluarga mengenal tulisan, memahami dan mengenal bacaan kepada anak. Kedua, keteladanan dari orangtua itu sendiri,” ujarnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dispusip. Memiliki banyak program untuk menumbuhkan Budaya Literasi pada anak-anak. Diantaranya dengan mendekatkan bacaan kepada anak-anak, melalui Perpustakan Keliling atau Micro Library yang terdapat di sejumlah daerah.

Selain itu, tambah Neti, Dispusip juga menyediakan program khusus untuk kunjungan anak ke perpustakaan daerah Kota Bandung. Menurutnya, program kunjungan bagi siswa sekolah, mulai dari PAUD sampai SMA ini cukup banyak menarik peminat.

“Dari total pengunjung ke perpustakaan kami, 45 persennya atau 67.235 orang itu adalah anak-anak sekolah. Ini setiap tahun kunjungan anak itu meningkat 10 persen. Tinggal kami meningkatkan kualitas dari kunjungan itu. Kita bangun inkubator penulis. Kita ada anak siswa kelas 2 SD yang sudah mulai membukukan tulisannya,” katanya. (AP)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU