EkonomiFeaturedPemerintahanRagam

KDM Hadir di Nagara Institute dan AFU Bedah BPI Danantara di RTD Edisi Ketiga

BANDUNG, BEREDUKASI.COM — NAGARA Institute dan Akbar Faizal Uncensored (AFU) menggelar Round Table Discussion (RTD) Edisi Ketiga, kali ini di Kota Bandung pada Kamis (22/1).

Forum bertajuk ‘Jepitan Problem Investasi Danantara dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah’ ini berlangsung di PCC Ballroom Hotel Holiday Inn Bandung, Kota Bandung, Jabar.
Fokus utama RTD Nagara Institute-AFU adalah menguliti urgensi dan fungsionalitas Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Nagara Institute memandang konsep super holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memerlukan kajian yang sangat mendalam.

Terutama pada aspek pengelolaan, kelembagaan, dan dampaknya terhadap kapasitas fiskal negara dalam jangka pendek maupun panjang. Hal tersebut tak terlepas dari pembentukan BPI Danantara yang memicu banyak pertanyaan publik dan harus terjawab secara transparan.
Forum kali ini terancang untuk memberikan kejelasan mengenai lima aspek ekonomi krusial yang menyelimuti BPI Danantara. Pertama adalah terkait kepastian sumber pendanaan selain dari aset BUMN, agar kehadirannya tak mengganggu stabilitas fiskal atau menjadi celah masuknya dana bermasalah.
Kedua, penetapan tujuan dan prioritas investasi yang jelas agar tak berbenturan dengan kepentingan ekonomi di daerah. Penegasan manajemen portofolio investasi menjadi aspek ekonomi krusial BPI Danantara ketiga yang menjadi fokus RTD di Kota Kembang.
Keempat adalah pelaksanaan mekanisme manajemen risiko yang ketat, dan kelima menyangkut komitmen penuh terhadap akuntabilitas serta transparansi publik.

“Konsep Danantara sebagai super holding yang menggabungkan Holding Operasional dan Holding Investasi diharapkan mampu meningkatkan daya saing BUMN di kancah global,” ungkap Ketua Pelaksana Nagara Institute sekaligus founder AFU, Dr. Akbar Faizal, S.H., M.Si.

Sementara itu, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, menyampaikan harapannya agar BUMN-BUMN yang hari ini memiliki kewajiban terhadap salah satu BUMD di Jabar segera menyelesaikan kewajibannya.

”Karena itu menjadi beban bagi Jabar. Kami juga sudah berkirim surat ke Danantara sudah ada respon positif dari Dirut Danantara,” kata Dedi.

”Danantara itu sebenarnya mencatatkan seluruh aset pemerintah yang jadi nilai strategis dalam upaya pengembangan pembangunan hilirisasi. Di daerah pun kita sudah menjalankan seluruh BUMD di Jabar nantinya akan digabung seperti Danantara, minggu depan sudah ada MoU,” tambah Dedi.

RTD Nagara Institute-AFU Hadirkan Buku Rekomendasi Ekonomi untuk Presiden RI RTD Nagara Institute-AFU tak hanya bertujuan sebagai wadah tukar pikiran, melainkan sebagai proses pengumpulan data kualitatif yang serius.

Setiap poin argumen dari para peneliti Nagara Institute, narasumber dan setiap pembicara akan dikurasi menjadi sebuah buku rekomendasi. Buku tersebut nantinya akan diserahkan kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto sebagai kontribusi nyata Nagara Institute-AFU. Dalam mengawal kebijakan investasi nasional.
Nagara Institute-AFU berharap RTD di Bandung dapat memetakan jalan tengah. Agar BPI Danantara benar-benar mampu mewujudkan kemakmuran rakyat, tanpa mengorbankan fleksibilitas ekonomi di tingkat Provinsi dan Kota.

Narasumber yang hadir: H. Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat); Prof. Dr. Anggito Abimanyu (Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan/LPS); Piter Abdullah Redjalam (Direktur Program dan Kebijakan Center for Policy Studies Prasasti); serta Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, yakni Dr. Hendri Satrio.

Para peneliti Nagara Institute yang juga merupakan Pakar dari Universitas Indonesia (UI), seperti Prof. Dr. Satya Arinanto, Dr. R. Edi Sewandono, dan Mohamad Dian Revindo, Ph.D akan memperkuat perspektif dari sisi Akademis. (***).

Related Articles

Back to top button