21.4 C
Indonesia
Friday, 7 October 2022
spot_img

Pelurusan Sejarah Purwakarta Periode Karawang Pada 1830-1832 M…..! (Episode 2)

Oleh : Naurid Ilyasa.

Purwakarta, BEREDUKASI.Com — BERDASARKAN penjelasan para tokoh masyarakat di Kabupaten Purwakarta. Banyak yang meyakini wangsit itu diterima Rd.Tumenggung Soeria Winatta saat dalam posisinya antara tidur dan tidak tidur.

Dalam silsilah keturunan, Bupati Rd. Soeria Winatta adalah adik dari Rd.Soerianata Wiranata Bupati Karawang ke-IX yang juga memiliki julukan Dalem Santri. Merekalah putra Adipati Wiranata, yang tercatat dalam naskah “Krawang”.

Pada masa kepemimpinan Dalem Santri, wilayah pemerintahan Karawang bertempat di desa Bunut Kertayasa. Kemudian dialihkan ke Wanayasa pada tahun 1821-1828M.

Begitu pula masa kepemimpinan Dalem Shalawat, Ibukota Karawang mengalami pemindahan kembali dari Wanayasa ke Sindangkasih pada 1830M. Begitulah catatan Rd.H. Oemar seorang Pengiring Bupati Cianjur R.A.A.Prawira Di Reja II (1862-1910) dalam naskah berjudul “Krawang”.

Pemindahan Ibukota tersebut dilakukan Dalem Shalawat dengan cara menentukan penanggalan Sunda Pranatamangsa. Itulah yang pernah dikukuhkan oleh Tokoh Sejarah di Purwakarta Djoenaedi Abdoel Kadir Soemantapura, sebelum Besluit Titimangsa Sindangkasih, 20 Juli 1831 No.2 ditemukan R.M.A.Ahmad Said Widodo.

Fungsi dari hitungan penanggalan Pranatamangsa, ialah sebuah metode penanggalan untuk mengatur hari baik dalam membuat ataupun pindah rumah dan juga memberi nama.

Selain itu, penanggalan Pranatamangsa juga sering digunakan untuk menentukan hari baik untuk bercocok tanam oleh para petani.

Perhitungan penanggalan Pranatamangsa, adalah berasal dari “rotasi” pergerakan matahari yang memiliki siklus 365-366 hari.

Para tokoh di Kabupaten Purwakarta juga mempercayai bahwa, Bupati Dalem Shalawat adalah seorang yang taat beribadah dan juga penganut tradisi dan budaya Sunda.

Hal itu diyakini para tokoh dan sejarawan, karena pada masa kepemimpinannya banyak karya tulis ulama setempat yang bernuansa tasauf  kearifan lokal Sunda. Seperti karya kitab agama Islam, yang ditulis oleh ulama terkemuka saat itu Rd. H. Joesoef putra Rd. Djajanegara berjudul “Fiih Sunda Tasauf Sunda”.

Hal itu juga dikuatkan oleh beberapa tokoh di kabupaten Purwakarta yang menjadi keturunan Bupati ke-X Karawang itu, menegaskan, bahwa Dalem Shalawat adalah penganut Islam aliran tarekat kosep Wahdatul Wujud.

Namun sebelumnya, penulis menemukan data baru, untuk jabatan bupati di Karawang saat itu. Sebelum Dalem Shalawat  menggantikan kakaknya menjadi Bupati Karawang, Rd. Soeria Dinatta asal Bogor putra Karta Di Redja. Lebih dulu menggantikan Dalem Santri menjadi Bupati Karawang di Wanayasa.

Namun jabatannya tidak lama hanya beberapa bulan disebabkan dia meninggal dunia.

Sebab jabatan yang hanya sebentar itulah, Rd. Soeria Di Natta mendapat julukan Dalem Panyelang.

Tempat makam Dalem Panyelang juga disemayamkan berdekakan dengan Dalem Santri yaitu di Desa Cibulakan, Kecamatan Wanayasa. Catatan tersebut penulis menemukan, di arsip kantor Kecamatan Wanayasa dan arsip kantor Desa Pondosalam.

Dengan adanya dokumen tersebut, jikalau benar seharusnya Dalem Shalawat bukanlah Bupati Karawang ke-X, melainkan ke-XI.

Dalam penelusuran sejarah dari sejak zaman kekuasaan Mataram Islam, yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1613-1645 M. Mataram Islam membawahi kerajaan Sumedang Larang yang masa itu sedang dipimpin oleh Rd. Rangga Gede pada 1624 M.

Daerah Sindangkasih yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Karawang saat itu,  hanyalah sebuah hutan belantara dan dijadikan tempat perkebunan teh, padi dan perkebunan lainnya.

Kemudian pada abad ke- 19 M, pemerintah Hindia Belanda  yang dipimpin Gubernur Gendral Johannes Graaf Van Den Bosch, mengadakan Sistim Tanam Paksa (Cultuurstelsel) di tanah Priangan.

Penulis menyimpulkan alasan Tanam Paksa diprogramkan Gubernur Jendral. Sebab negara Belanda tengah mengalami kebangrutan akibat hutang yang membengkak pada Perancis dan tragedi perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro 1825-1830 M.

Pada masa itulah pemerintah kolonial Belanda, bukan saja mempekerjakan pribumi untuk bercocok tanam. Namun pemerintah kolonial Belanda juga mempekerjakan Cina-Cina asal Makau untuk perkebunan teh di Periangan termasuk Wanayasa.

Berdasarkan buku “Babad Pasoendan” karya A.C.Deenik, tahun 1929 M, tertulis saat tanam paksa Nila, Kopi dan Teh adalah indusri perkebunan pemerintah Belanda masa pimpinan Johannes Graaf Van Den Bosch.

(Bersambung ke Episode 3)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU