21.4 C
Indonesia
Wednesday, 30 November 2022
spot_img

Pelurusan Sejarah Purwakarta Periode Karawang Pada 1830-1832 M…..! (Episode 3 Selesai)

Oleh : Naurid Ilyasa.

Purwakarta, BEREDUKASI.Com — SETELAH tahun 1830 M, pemerintah kolonial Belanda membangun Distrik dan sebuah Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Wanayasa. Sebagai tempat penyimpanan pertama sebelum dikirim ke Batavia lewat pelabuhan Cikao.

Kini salasatu gudang kopi tersebut menjadi bangunan kelas SDN 1 Wanayasa. Selama mempekerjakan Cina Makau di perkebunan teh, pemerintah kolonial Belanda, upah mereka selalu dibayar sedikit dan sering mendapat potongan.

Oleh karena itulah, para buruh Cina-Cina Makau yang dimukimkan di Pasir Nagara Cina kaki gunung Burangrang. Melakukan aksi perampokan tiap malam pada pemukiman pribumi di Wanayasa. Dengan maraknya kasus tersebut, Bupati Karawang Dalem Salawat yang baru dilantik 1829 M itu. Berinisiatif untuk memindahkan Ibukota Karawang yang saat itu masih berkedudukan di Wanayasa.

Pemindahan ibukota pun terlaksana setelah Johannes Graaf Van Den Bosch dilantik tahun 1830M. Pemindahan ibukota Karawang baru, bertempat di Sindangkasih yang namanya dirubah menjadi Purwakarta.

Berdasarkan catatan Rd.H. Oemar berjudul “Carita Perang Cina Banjeung Puru”, menggambarkan pemindahan ibukota tersebut dilakukan Bupati. Pemerintah kolonial Belanda dan masyarakat secara berangsur-angsur. Karena yang pertama dibangun di Sindangkasih adalah gedung perkantoran pemerintah berikut penjara. Bahkan saat Dalem Shalawat sendiri, dibangunkan kantor sekaligus kediaman oleh masyarakat Karawang.

Bangunan tersebut dinamakan “Bumi Ageung”, sebagai Kantor Kabupaten Karawang Pertama di Purwakarta. Namun disayang, bangunan Bumi Ageung sudah tidak ada sejak tahun 2015 lalu.

Usai dipindahkan 7 Mei 1830 Bupati mengadakan syukuran. Titimangsa tersebut, dikukuhkan oleh Djoenaedi Abdoel Kadir Soemantapura sebagai hari jadi Purwakarta.

Pendapat penulis ini adalah hari jadi versi pribumi, mengingat Dalem Shalawat penganut tasauf wahdatul wujud (kosep entitas). Setelah usai dibangun infrastruktur dan lainnya, hampir seluruh warga di Wanayasa berpindah ke Purwakarta. Pemerintah kolonial Belanda mengesahkan secara legal melalui Besluit titimangsa Sindangkasih,20 Juli 1831 No.2. Besluit tersebut berisikan, pengesahan pemindahan Ibukota Karawang ke Sindangkasih yang namanya diubah menjadi Purwakarta.

Berhasilnya Dalem Shalawat dalam Program Tanam Paksa, pemerintah kolonial Belanda membangunkan kantor untuk Dalem Shalawat sebagai hadiah.

Setelah tahun 1832 M, para buruh perkebunan teh asal Cina-Cina Makau ini, mengadakan rundingan bersama buruh Cina lainnya. Mereka bekerja sama untuk merencanakan, penyerangan  Ibukota Karawang yang baru bernama Purwakarta.

Gentingnya Ibukota baru Karawang saat itu karena penyerangan buruh Cina dari Makau ini, tergambarkan oleh Rd.H. Oemar dalan catatannya “Carita Perang Cina Banjeung Puru”.

Saat itu Dalem Shalawat meminta bantuan Bupati Cianjur, karena  Karawang bena-benar dikepung oleh Cina–Ciba Makau.

Di Wanayasa, buruh Cina asal Makau ini, membunuh Sheper Leau seorang Kepala Perkebunan teh di Wanayasa. Ia dipukuli hingga mati dan disembelih. Mayatnyapun tidak di kubur, melainka hanya disimpan di seuah batu bernama Batu Nanceb.

Hingga kini hutan tersebut dikenal dengan nama Hutan Ciperlawu Desa Cibeber, Kecamatan Kiarapedes.

Kemudian gerombolan Cina Makau Wanayasa ini, turun untuk menyerang Purwakarta. Namun setelah di daerah Tanjakan Pasir Panjang, bertemu dengan tentara Belanda yang dibarengi pasukan pribumi.

Seketika pertempuran terjadi, hingga korban diketiga belah pihak banyak yang berjatuhan. Tanjakan Pasir Panjang, layaknya sungai darah hingga kini dinamakan Rancadarah.

Disisi lain Purwakarta diserang oleh pasukan Cina Makau, dari arah Desa Cilangkap. Mereka membakar gedung kantor dan rumah masyarakat. Sehingga sang ulama setempat Rd. H. Joesoef yang juga menjabat sebagai Kepala Penghulu saat itu. Ikut juga berpartisi dalam pemadaman pemberontakan tersebut.

Berdasarkan ungkapan keturunannya bernama Amal Sibiyan, Rd.H.Joesoef melawan pemberontak Cina dengan menggunakan Sapu Padi. Usai dari tragedi itu lah, Rd.H.Joesoef dijuluki “Kiyai Sapu Pare”.

Penulis menyimpulkan keikutsertaannya Rd.H.Joesoef memadamkan pertempuran ini adalah, saat itu Rd.H.Joesoef menilai bahwa Belanda adalah kafir dzim (kafir yang tidak memerangi Islam). Karena, pemerintah Belada di Karawang memang bukan membuat permusuhan, melainkan Pembangun Daerah.

Disisi lain Dalem Shalawat, miminta batuan Bupati Cianjur untuk memadamkan pemberontakan ini. Bupati Cianjur pun memberi bantuan, dengan mengirimka H. Muhyi dan pasukan tentaranya.

Saat peristiwa ini berlangsung Dalem Shalawat beserta pemerintah kolonial Belanda, diamankan dengan cara disembunyikan di Kembang Kuning Loji Jatiluhur. Sampai pemberontakan tersebut benar-benar reda.

Berdasarkan alur Sejarah peristiwa pemberontakan Cina Makau di Karawang ini, berlangsung sejak 1831-1836 M. Tepatnya sejak 9, Mei 1832 pertempuran itu benar – benar meletus di wilayah Karawang dan Cianjur.

Berdasarkar catatan naskah “Karawang”, Cina Makau di Desa Cilangkap ini hendak menyerbu Batavia sebagai pusat pemerintah kolonial Belanda. Sayangnya usaha mereka menyerbu Batavia berhasil dihadang oleh KP Sentot Alibasjah Abdul Mustofa Prawirodirdjo bersama pasukannya yang saat itu telah berpihak pada Belanda.

Usai tragedi tersebut, pemeritah kolonial Belanda membangunkan kembali Kantor Bupati di Jl. Gandanegara.

Kini kantor tersebut masih dipakai sebagai kantor Pusat Pemda Kabupaten Purwakarta.

Selesai.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU