22.4 C
Indonesia
Sunday, 25 September 2022
spot_img

Sampai Jumpa Esok Pagi Grimm-Zentrum…..!

Berlin, BEREDUKASI.Com — “Die Leserinnen und die Lesern. Die Bibliothek schließen in halben Stude”. Terdengar suara pengumuman yang mengabarkan, bahwa perpustakaan akan tutup dalam setengah jam, tepat jam 12 malam.

Waktu terasa berjalan sangat cepat, terlebih lagi jika menjelang ujian. Kulihat semua orang tampak bergegas merapihkan meja belajar dan mengembalikan buku ke rak-nya masing-masing.

Kulihat buku di mejaku berjudul “Statistik und Ökonometrie” yang belum sempat dibaca semua.

Seandainya saja ada versi digitalnya sehingga bisa dibawa pulang. Malam itu, semua meja belajar penuh, karena minggu ujian. Sehingga aku dapat meja belajar kosong di lantai lima. Walau demikian, semua orang berjalan ke lantai dasar menggunakan tangga, seolah-olah lift tidak bisa dipergunakan. Kebiasaan yang bagus, pikirku. Kuanggap ini, seolah-olah ber-olahraga.

Dikenal dengan nama Grimm-Zentrum, perpustakaan itu dimiliki Universität Humboldt zu Berlin dan diresmikan tahun 2009 itu terletak di kawasan Friedrichstrasse yang penuh dengan gedung perkantoran dan perbelanjaan. Universität Humboldt zu Berlin adalah satu dari tiga universitas di Berlin dan merupakan universitas terbaik ke 62 di dunia. Didesain oleh arsitek asal Swiss, Max Dudler, Grimm-Zentrum memiliki ruangan berkapasitas 1,200 tempat duduk dengan 500 di antaranya dilengkapi dengan PC. Fasad tampak depan bangunan ini terlihat tegas dengan susunan grid asimetrik dari beton dan diselingi oleh kaca. Desain ini sengaja disematkan agar bangunan ini bisa cocok berdiri dengan susunan bangunan lainnya bergaya klasik sosialis. Sementara itu, interior bangunan dipenuhi dengan balok kayu dan didesain untuk kondisi pencahayaan maksimum. Hal ini terlihat dari atap kaca di ruang baca utama yang tidak memerlukan pencahayaan buatan di siang hari. Sekitar 2.5 juta koleksi buku ditampung di perpustakaan berlantai sepuluh ini dengan koleksi antik dan bersejarah terletak di lantai enam dan tujuh. Ratusan meja belajar dilengkapi dengan lampu meja terbuat dari gelas marbel berwarna hijau memberikan sentuhan modern klasik di tengah interior yang tegas.

Walaupun dimiliki oleh Universität Humboldt zu Berlin, perpustakaan ini bisa dipakai oleh umum. Jaringan wifi yang tersedia adalah jaringan eduroam di mana semua mahasiswa pemilik akun bisa menggunakan jaringan ini, walaupun bukan di universitas sendiri, atau bahkan bukan di Jerman. Penulis pernah berkunjung ke Universitet Gent Belgia, jaringan eduroam di sana pun berfungsi sempurna. Mahasiswa di Eropa memang diberikan fasilitas yang sangat mumpuni untuk mendukung kegiatan belajar. Perpustakaan universitas tidak terbatas untuk mahasiswa dari universitas tersebut. Semua mahasiswa diperboleh meminjam dan menggunakan fasilitas umum. Beberapa perpustakaan universitas seperti Grimm-Zentrum buka dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam. Kesempatan ini tentunya tidak disia-siakan oleh para mahasiswa karena suasana belajar sangat mendukung di dalam perpustakaan daripada di flat sendiri. Desain ruangan mempertimbangkan aspek akustik dengan menggunakan peredam suara yang membuat lingkungan senyap. Walau terkadang ada saja yang membuat suara namun langsung ditegur.

Segera kukancingkan sweaterku. Malam ini terasa dingin walapun musim panas sudah tiba. Terlihat lampu mulai dimatikan dan jendela perpustakaan itu menjadi gelap gulita. Sepi seketika menyergap kala semua pulang. Sampai jumpa esok pagi Grimm-Zentrum, batinku berkata sambil melangkah pulang…!

Penulis : Iqbal Akbar, mahasiswa Pasca Sarjana dan Asisten Riset di Technical University of Berlin. Penggagas Indonesia Subsea Professional Network. Aktif berorganisasi dan berafiliasi dengan Paramadina Society (PRCSD), TEDxTU Berlin, Renewable Energy Network (REN21) dan Erasmus Mundus.

Sosok muda berprestasi asal kota Bandung ini, jebolan ITB (Institut Teknologi Bandung)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU