22.4 C
Indonesia
Friday, 12 August 2022
spot_img

Angkutan Kota Tak Lagi Ramai…!

Oleh : Anur

Bandung, BEREDUKASI.Com — MENGAMATI salasatu sarana angkutan umum atau yang lebih  akrab disebut “Angkot” di Kota Bandung. Untuk jaman seperti sekarang ini, atau lebih kekinian dengan istilah “Jaman Now”. Memang agak menggelitik penulis.

Penulis mencoba mengamati, hilir mudiknya Angkot ini. Waktu sudah menunjukan pukul 19.00. Ketika itu saya lambaikan tangan kanan, hendak menghentikan satu diantara banyak kendaraan favorit warga Bandung itu. Trayek Angkutan kota khusus Kalapa–Dago, memang tak seramai Angkutan kota yang lain. Apalagi di jam-jam malam, seperti yang saya alami. Begitu masuk Angkot, saya menghitung jumlah penumpang. Dan hanya ada 7 orang penumpang. Saya memilih kursi depan, disamping sang supir.

Angkoy melaju melewati gemelapnya suasana malam kota Bandung. Dalam balutan lampu-lampu benderang khas perkotaan.

Dalam perjalananan dikeheningan malam menyelimuti kami semua yang ada di dalam Angkot. Lalu terjadilah omongan ringan dengan sang supir.

“Bapak sudah lama jadi Supir angkot….?” saya bertanya, kepada sang supir.

“Ya… cukup lama juga, tapi ini mah…sambilan saja. Soalnya  proyek lagi sepi Neng….,” jawabnya, tetap fokus, mengendalikan Angkotnya.

Sejenak aku mencerna kalimat tersebut, ku pikir tadinya profesi Supir Angkot hanya digeluti oleh mereka yang tak memiliki pekerjaan lain.

Mengutip MetroNews “Sebanyak 5.000 kendaraan yang dimiliki seribu orang, menyediakan jasa untuk 36 trayek angkutan kota di Bandung, Jawa Barat. Namun, angka ini semakin menyusut, karena minimnya keuntungan dari jasa angkutan konvensional. Dan yang aktif hanya sekitar 30 persen saja. Rata-rata angkutan kota yang paling terdampak dari muncul moda angkutan baru, seperti transportasi berbasis aplikasi”.

Semakin menyusutnya angka Angkutan umum yang aktif beroperasi di Bandung, memberikan dampak nyata dalam waktu relatif singkat. Melihat dari sisi harga, efektifitas dan keamanan masyarakat lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan Transportasi berbasis Online. Membuat beberapa Supir Angkot bahkan harus mencari pekerjaan lain dan menjadikan Angkot hanya sebagai sambilan saja.

Pa Eko selaku Supir Angkot Kalapa-Dago menuturkan pendapatan yang dihasilkan Angkot sama sekali tidak menentu. Berbeda dengan Proyek atau pekerjaan Kontraktor yang meskipun bulanan ada nominal pasti dalam pengerjaanya.

“Ya… kalau lagi rame mah, dapet 150 sampei 200 Neng. Tapi, kalau lagi sepi paling cukuplah buat beras atau bekel anak mah,” Imbuh Pa Eko.

Tak terasa Angkot sudah sampai di Terminal Kalapa, aku memberikan uang sebagai ongkos perjalanan.

Sebelum turun Pa Eko menambahkan, “Yang penting pekerjaanya (Supir Angkot) gak mencuri atau merugikan orang lain, bakal tetep dijalanin Neng…,” tandas beliau. Sejenak aku diam, lalu tersenyum sebagai balasan atas keramahannya.*

Penulis : Mahasiswi UNIKOM Bandung. Jurusan Jurnalistik, Semester 5.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU