25.4 C
Indonesia
Sunday, 14 August 2022
spot_img

Atalia Kamil Mengingatkan Orang Tua Hindari Toxic Parenting……!

BKKBN: Delapan Fungsi Keluarga Kunci Ketahanan Keluarga.

Bandung, BEREDUKASI.Com — SETIAP Orangtua tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Meski begitu, bukan berarti orang tua harus menuntut seorang anak jadi apa yang dikehendakinya. Pada saat tertentu, orangtua dituntut memberikan keleluasaan kepada sang buah hati untuk mengambil keputusan. Pemaksaan berlebihan Orangtua kepada sang anak hanya menjadikannya sebagai semacam Racun atau Toxic yang merusak relasi Orangtua dan anak. Tugas Orangtua adalah membimbing dan mengantarkan sang anak menuju masa depannya.

Salasatu catatan penting yang tersirat dalam Webinar bertajuk “Toxic Parenting” berlangsung Rabu siang, 7 Oktober 2020. Webinar ini diprakarsai Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan menghadirkan narasumber Bunda Generasi Berencana (Genre) Jawa Barat, Atalia Praratya Ridwan Kamil.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) BKKBN Muhammad Yani, TV One News Anchor Chacha Anisa, serta Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) Ihsana Borualogo.

“Banyak Orangtua tidak sadar telah mempraktikkan Toxic Parenting dalam mendidik anaknya. Praktik ini kontraproduktif dengan tujuan awal melakukan pendidikan atau pengasuhan anak,” kata Atalia.

Dalam penjelasannya Atalia mengidentifikasi setidaknya terdapat Delapan Jenis Toxic Parenting yang kerap dilakukan Orangtua. Pertama, egois dan kurang empati pada anak. Dalam hal ini, Orangtua Toxic selalu mengutamakan kebutuhan mereka sendiri dan tidak mempertimbangkan kebutuhan atau perasaan anak. Mereka tidak berpikir tentang bagaimana perilakunya berdampak pada anak.

Ke-Dua, Reaktif secara emosional. Orangtua Toxic bereaksi berlebihan atau mendramatisasi situasi. Ke-Tiga, mengontrol secara berlebihan. Disini, Orangtua melakukan kontrol ketat, sehingga anak harus melakukan apa yang dikehendaki orangtua tanpa melakukan kompromi. Ke-Empat, pola asuh permisif. Orangtua memberikan kebebasan kepada sang anak untuk melakukan setiap yang dikehendakinya.

“Bebaskeun wae cenah. Ini juga tidak baik. Anak-anak dari Orangtua yang permisif memang memiliki kebebasan, tetapi mereka kehilangan periode kritis dalam mengembangkan keterampilan penting seperti tanggung jawab,” ungkap Atalia.

Selanjutnya yang Ke-Lima, Orangtua kurang menghargai. Apapun usaha dan hasil yang dilakukan anak, selalu dirasakan kurang. Orangtua Toxic sangat jarang memberikan apresiasi pada anak. Ke-Enam, menyalahkan dan kritik berlebihan pada anak. Bagi Orangtua Toxic ini, tidak ada sisi baiknya pada seorang anak. Dia akan mencari “Orang Lain” untuk kegagalan atau kesalahan dalam dinamika keluarga.

Orangtua Toxic juga bisa dikenali dari jenis Ke-Tujuh ini: menuntut berlebihan. Orangtua seringkali tidak peduli pada kesanggupan dan kemampuan anak untuk mengerjakan suatu hal. Akibatnya, anak akan merasa tertekan dan kehilangan rasa percaya diri. Ada lagi jenis Ke-Delapan: mengungkit apa yang telah dilakukan untuk anak.

“Misalnya, Orangtua mengungkit apa yang dikeluarkan untuk anak. Hal ini bisa membuat anak merasa bersalah. Disinilah pentingnya bagi Orangtua untuk mampu mengelola emosi dalam melakukan pengasuhan. Jangan salah, anak itu peniru ulung. Apa yang dilakukan Orangtua bisa diikuti oleh anak,” tandas Atalia.

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua agar terhindar dari perilaku Toxic….?

Berkebalikan dari Delapan Toxic tadi, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jawa Barat ini berpesan agar setiap orang mampu menjadi pihak yang mampu meningkatkan kepercayaan sang anak. Sikap ini dibarengi dengan empati tinggi dan berkesinambungan.

“Kita Orangtua harus ingat bahwa tidak ada anak yang menguasai semuanya. Sebagian anak menyukai dan pintar matematika tapi lemah untuk seni. Ada juga yang pintar dalam bahasa tapi rendah dalam olah raga. Apapun potensi anak, kita harus memberikan apresiasi. Tidak harus dipaksakan untuk menguasai semuanya,” ujarnya.

Tidak kalah pentingnya adalah menjaga konsistensi. Penerapan disiplin harus senantiasa konsisten untuk semua. Ini yang kemudian menjadikan seorang anak bertanggung jawab. Sebaliknya, jika perilaku Orangtua menunjukkan inkonsistensi, maka seorang anak bisa dengan mudah membalikkan perkataan orang tua. Dalam hal ini, para orang tua dituntut menjadi teladan bagi anaknya.

Dia juga mengingatkan agar para orang tua meluang waktunya untuk sang anak. Waktu yang berkualitas tentunya. Berbicaralah dari hati ke hati. Bagi Atalia, percuma saja orang tua berlama-lama dengan anaknya jika masing-masing sibuk dengan gadget masing-masing. Lebih baik sedikit, tapi berkualitas. Tunjukan bahwa cinta itu tanpa syarat. Tidak semua perlu dibuat semacam reward and punishment.

“Kalau selalu ada Reward and Punishment, anak jadi perhitungan. Jangan lupa untuk bersikap fleksibel dan bersedia menyesuaikan diri dengan perkembangan anak. Setiap anak memiliki latar belakang berbeda, bukan hanya intelegensia, tapi juga karakter. Wajar ada anak pertama berbeda dengan kedua. Karena itu, dua anak saja. Dua anak lebih baik karena perhatian bisa diberikan secara penuh. Walaupun berbeda karakter,” pungkas Atalia. (Tesaf).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU