21.4 C
Indonesia
Sunday, 7 August 2022
spot_img

Di Indonesia Belum Ada Aturan Yang Tegas Tentang Plastik.

JAKARTA, GE — PENTINGNYA kesadaran masyarakat terkait penggunaan plastik kemasan makanan dan minuman yang lebih aman bagi kesehatan. Hal itu tercermin dari seminar yang diprakarsai oleh Chanel9.id dengan judul Urgensi Label Bebas BPA Bagi Kesehatan, yang diselenggarakan secara virtual, Selasa, 5 Oktober 2021.

Seminar menampilkan pembicara dan pembanding, antara lain; Arist Merdeka Sirait (Ketua Komnas Perlindungan Anak), Iwan Nefawan (Ahli Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan), Prof. Ahmad Sulaeman (Guru Besar IPB Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Masyarakat) dan Wawan Some (Koordinator Sampah Nol Indonesia).

Pada kesempatan tersebut salasatu Narasumber Wawan Some (Koordinator Sampah Nol Indonesia) mengatakan, di Indonesia belum ada aturan yang tegas tentang plastik.

‘Ada yang bilang plastik bisa didaur ulang, tapi faktanya plastik di Indonesia yang bisa didaur ulang kurang dari 11 persen,’ papar Wawan Some.

Wawan mengungkapkan, pemakaian plastik sudah mencapai 6 juta ton per-tahun. Secara keseluruhan plastik mengandung BPA kemudian ada pewarnanya.

‘Ada bahan baku plastik itu kan minyak bumi. Saat rantai karbonnya pecah dampaknya luar biasa. Dia secara tunggal tidak berbahaya tapi ketika dia bertemu zat-zat tercemar lainnya dampaknya menjadi luar biasa. Salasatu struktur kimianya yang membentuk estrogen,’ ungkap Wawan.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, dalam pemaparannya menjelaskan, bahwa Komnas PA akan lebih fokus bagaimana anak-anak bebas dari BPA khususnya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil.

‘Ini menjadi urgensi untuk kita bagaimana membebaskan anak-anak dari bahaya BPA,’ ungkapnya.

Berdasarkan hasil penelitian oleh para pakar tentang BPA pada tahun 2015, terang Arist, sudah mengaitkan bahayanya terhadap kesehatan Bayi, Balita dan Janin. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat.

‘Atas dasar itulah Komnas Perlindungan Anak bergerak untuk melindungi anak anak dari bahaya BPA. Keadaan dan situasi anak-anak, menurutnya, menjadi tidak tumbuh dan berkembang dengan baik,’ ujar Arist.

Pihaknya, kata Arist, tidak melarang galon guna ulang yang mengandung zat BPA.

‘Kami hanya ingin BPOM melabeli galon guna ulang tersebut, supaya masyarakat bisa memilih dan tahu mana yang sehat. Contohnya seperti susu kental manis yang berlabel tidak untuk dikonsumsi bayi.’ papar Arist.

Pada kesempatan itu Arist juga menyampaikan sangat mendukung kepada BPOM agar segera memberi label pada galon guna ulang mengandung zat BPA. Sehingga tidak dikonsumsi oleh Bayi, Balita dan Janin.

Dampaknya dari Migrasi Zat BPA, kata Arist, sudah beberapa kali disampaikan dapat menimbulkan Kelahiran Prematur, Kanker, Syaraf dan lain sebagainya.

‘Itu sebabnya BPOM sebagai Pemegang Regulator harus segera memberi Label pada Galon Guna Ulang. Agar tidak dikonsumsi oleh Bayi, Balita dan Janin. Sehingga masyarakat bisa memilih mana Produk yang mana yang kurang aman,’ tegas Arist.

Menurut Arist, migrasi zat BPA dari galon guna ulang ke air kemudian diteruskan ke peralatan bayi. Akan sangat mubazir jika peralatan bayi sudah Free BPA, tapi galon guna ulang belum free BPA maka tetap terjadi migrasi BPA. Apalagi galon guna ulang ini akan cepat terjadi peluruhan BPA jika mengalami goresan dan pemanasan.

Seminar yang dipandu oleh Hardy Hermawan ini bertujuan untuk memberi penyadaran kepada masyarakat akan bahaya BPA. Sehingga pelabelan pada kemasan plastik atau salasatunya Galon Guna Ulang sangat mendesak. Urgensinya tinggi untuk segera diterapkan, agar bayi dan anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa terlindungi kesehatannya. (Ombik).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU