21.4 C
Indonesia
Thursday, 29 September 2022
spot_img

International Students Gathering

Bandung, BEREDUKASI.Com — KEMENTERIAN Luar Negeri melaiui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Konfrensi Asia-Afrika (KAA) bekerjasama dengan Universitas Telkom Bandung.

Menggelar acara bertajuk International Students Gathering (ISG) di Ruang Pameran Tetap Museum KAA Jl. Asia-Afrika No.65 Bandung, Selasa, (24/04/18).

International Students Gathering (ISG), merupakan bagian dari rangkaian acara Peringatan 63 Tahun KAA di Museum KAA.

Acara dibuka oleh Kepala Museum KAA, Meinarti Fauzie. Turut hadir Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri, Daniel Tumpal Simanjuntak dan Rektor Universitas Telkom, Professor Mocnamad Ashari. Keduanya berbicara soal Indonesia-Africa Forum (IAF) dalam sesi pemaparan.

Sesi pemaparan diikuti sesi diskusi. Puncaknya adalah mingling session dimana para peserta yang berasal dari berbagai negara dan universitas, berkesempatan untuk bertukar Informasi dan membangun jejaring kerja.

Museum KAA sengaja memilih topik IAF pada acara ISG kali ini,  sejalan dengan visi perhelatan IAF yang telah digelar sebelumnya di Bali tgl 10-11 April 2018.

Dengan demikian, melalui acara ISG Museum KAA hendak memberikan kesempatan, bagi para mahasiswa asing, khususnya mahasiswa asal Afrika yang sedang menempuh study di Indonesia, untuk memperoleh perkembangan terkini soal hubungan kerjasama antara Indonesia dan negara-negara Afrika.

Berbeda dengan pelaksanaan ISG pada peringatan KAA tahun 2017 lalu. Sebanyak 150 peserta lSG tahun ini datang dari Bandung dan berbagai kota di luar Bandung. Seperti Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bogor.

Museum KAA rutin menggelar ISG sejak tahun 2016. ISG merupakan salasatu hasil kesepakatan Konferensi Mahasiswa Asia Afrika yang dilaksanakan oleh Museum KAA tahun 2015.

ISG diharapkan berperan sebagai Forum Komunikasi Mahasiswa Internasional yang tengah menempuh study di Indonesia, khususnya di Kota Bandung.

ISG tidak bisa Iepas dari “warisan” Intelektual Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955 yang bertujuan untuk menciptakan sebuah “platform” kerjasama antar bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Dalam berbagai bidang. Konferensi itu juga mendorong negara-negara Asia dan Afrika yang masih terjajah untuk meraih kemerdekaan dan memperjuangkan hak untuk menentukan nasib sendiri (self-determination).

KAA melahirkan “Sepuluh Prinsip Bandung” atau popuier sebagai “Dasasila Bandung”. Nilai-nilai seperti kesetaraan, toleransi, kerja sama dan hidup berdampingan. Secara damai adalah “intisari” dari “Dasasila Bandung”. Nilai-nilai itu hingga kini dalam hubungan Internasional masih relevan.

Dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai itu tak hanya perlu terus dilestarikan. Tetapi diterapkan sebagai panduan dalam membangun kerjasama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Serta menyentuh para pemangku kepentingannya, terutama generasi muda. (HKS)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU