23.4 C
Indonesia
Tuesday, 16 August 2022
spot_img

Kartini Masa Kini, Harus Memiliki Tiga Dasar Untuk Bisa Menjalankan Peran Dan Tugasnya Dalam Rumah Tangga……!

Bandung, BEREDUKASI.Com– PANDEMI Covid-19 yang masih menjangkit nyaris di seluruh penjuru Indonesia. Mengisahkan sebuah tantangan dan dinamika di dalam kehidupan, terutama berkeluarga. Tidak terkecuali Kota Bandung, yang memiliki dinamika berbeda. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di dalam keluarga. Bukan hanya berdampak pada sisi Kesehatan dan Ekonomi. Sebab kebijakan yang memaksa seluruh anggota keluarga yang sebelumnya selalu berkegiatan di luar kini terpaksa harus di dalam rumah. Hal itu pun diakui oleh Ketua TP-PKK Kota Bandung, Siti Muntamah Oded. Menurutnya, situasi ini menyebabkan interaksi sosial dalam keluarga mengalami dinamika. Peran Ibu menjadi semakin penting dalam keluarga di situasi seperti sekarang. Adanya perbedaan Zona Generasi antara Orangtua dan anak, seringkali menyebabkan ketidaksinambungan antara harapan Orangtua dan anak. Apalagi komunikasi Orangtua dan anak kurang baik. Orangtua lahir di zaman Boomers, sementara anak lahir di zaman generasi Z. Generasi ini lahir beriringan dengan dunia gawai yang melahirkan ribuan informasi yang bisa diakses dengan mudah. “Dari sinilah terjadi ketidaksinambungan antara Orangtua dan anak. Orangtua tidak mampu menyeimbangi anak, begitu pula anak seringkali menutup diri dan lebih asyik dengan dunianya sendiri,” kata Siti. Siti melihat, dari fenomena inilah lahir kasus-kasus kekerasan terhadap anak. Termasuk Lost Edukasi yang kian tinggi. Padahal di tengah situasi saat ini, anak sangat membutuhkan peran Orangtua untuk membantunya dalam belajar (Pembelajaran Jarak Jauh). “Maka perlu dihadapi dengan bijak dan arif, kasih sayang dan tanggung jawab,” tutur Siti. Bertepatan dengan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, Siti Muntamah Oded yang kerap disapa Bunda ini. Menilai fenomena ini mengingatkan pada situasi sulit di zaman Kartini. Namun Kartini mampu menghadirkan sebuah kebijakan fenomenal untuk mengetahui hal yang harus dilakukan seorang perempuan. Ketika berada dalam satu tantangan tanggungjawab. “Tapi saat itu dengan kelurusan budi dan perilakunya, ketaatan kepada agama, Orangtua dan suami. Melahirkan Kartini yang memiliki jiwa yang lurus, itu terlihat dari isi surat-suratnya,” ungkapnya. Bahkan menurutnya, Kartini merupakan sosok yang berbudi pekerti dan shalihah. Terlihat dari isi surat-suratnya dalam sebuah buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kartini memilih taat kepada ayahnya, meski saat itu di usianya yang masih belia dijodohkan dengan seorang laki-laki yang sudah pernah menikah. “Kartini itu dia taat kepada ayah dan suaminya, tak ada dia protes. Tapi dia mengambil ini karena mungkin itu jalan menuju Tuhannya,” tuturnya. Mengutip urat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901, Siti menyebut Kartini sebagai Akaelerator bagi perempuan yang lain. Salah satu kutipannya yaitu: “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (Sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. “Dalam suratnya juga menceritakan keinginan dia untuk menjadi akselerator bagi perempuan-perempuan yang lain supaya memiliki Skill untuk menata dan meningkatkan kualitas hidupnya,” ungkap Siti. Maka itu, Siti tidak terlalu setuju dengan pandangan yang menyebut Kartini adalah sosok emansipasi wanita, meski tidak protes terhadap keberadaan laki-laki. Sebab melalui sekolah yang dia bangun, Kartini hanya ingin mencerdaskan, meningkatkan Literasi, kualitas dan peran serta tugas perempuan. “Supaya ketika dia menjadi ibu dan istri, dia mampu menata dan menjaga situasi rumah dengan sangat baik,” imbuh Siti. Melihat fenomena saat ini, menjadi tantangan yang sangat besar bagi Kartini-kartini di keluarga untuk tetap melahirkan generasi berkualitas, sekaligus menjadi pemenang dalam menghadapi fenomena dari pandemi. “Anak-anak tetap harus memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, leadership dan itu dirangkum dengan segala kesulitan bisa diatasi, tentu dimulai dari keluarga,” tutur Siti, yang juga menjabat Ketua Pusat Pembelajaran Keluarga. Siti berpandangan Kartini masa kini, harus memiliki tiga dasar untuk bisa menjalankan peran dan tugasnya dalam rumah tangga, termasuk menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebab Indonesia saat ini membutuhkan keluarga yang mampu melahirkan anak berkualitas, mengingat masa depan bangsa memiliki tantangan dan cita-cita mulia yang tertulis di dalam UUD yaitu melahirkan bangsa yang berdaulat, adildan makmur. Tiga dasar tersebut ialah, pertama memiliki kelurusan dalam pengabdian kepada Tuhan, yakni dengan menjadikan para pendahulunya menjadi kiblat. “Kartini ini mengajarkan sosok perempuan yang shalihah, berilmu, dan sosial. Saya melihat sosok Kartini ini sosok khadijah di jamannya, ” tuturnya. Kedua, Literasi. Perempuan hari ini harus berliterasi sekaligus mampu meningkatkan indeks literasi. “Mari menjadi perempuan, kenali diri dan potensi, dan tingkatkan literasi,” seru Siti yang juga menjabat Ketua FBS (Forum Bandung Sehat). Dan terakhir berbagi dengan sesama. Meski dalam kesulitan, perempuan tetap memiliki tugas sangat besar untuk mengembangkan tanggung jawab sosial kepada sesama. “Bukan hanya berbagi materi, tapi disini berbagi keteladanan, inspirasi, motivasi, dan spirit bahwa kita berada di dalam satu ruang yang sama, melewati masa yang sama dengan tujuan yang sudah jelas, dan sama,” terang Siti. “Yaitu menghadirkan kehidupan yang baik di masa yang akan datang, terselamatkan anak-anak kita dan Kota Bandung harus menjadi Kota penyumbang pahlawan terbanyak,” imbuhnya. (tan).]]>

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU