23.4 C
Indonesia
Monday, 27 June 2022

Keren Bingittt ! Newhun Sulap Sampah Plastik, Jadi Jam Tangan Estetik

BANDUNG, BEREDUKASI.COM — BAGI sosok seorang bernama Sae, Yahya, dan Regi, sampah-sampah plastik ini ibarat pundi rupiah bernilai jutaan. Sebagai bentuk terima kasih kepada bumi, tiga pemuda ini mengolah sampah plastik menjadi produk jam tangan bernilai tinggi dengan nama brand ‘Newhun’.

Sae, salasatu &ounder Newhun berbagi kisah perjalanan panjangnya meriset produk ini kepada Penulia.

‘Sudah 2,5 tahun saya melakukan riset sebelum akhirnya Newhun berdiri pada 5 Mei 2022. Setelah itu, saya ajak Yahya dan Regi juga untuk ikut jadi founder brand ini,’ ujar Sae kepada Penulis.

Berlokasi di Jl. Sabang No. 2A, Cihapit, Kota Bandung, proses produksi berjalan setiap Senin-Jumat. Perlahan, Newhun pun mulai bertumbuh, bertambah pula personil yang ikut mengembangkannya.

‘Ada Dian yang gabung jadi Manager Operational. Lalu kami juga rekrut satu orang karyawan. Kebetulan ada dua orang yang mau jadi volunteer. Jadi sekarang totalnya kami sudah bertujuh di sini,’ lanjutnya.

Menariknya, meski produk Newhun menggagas konsep go green, tapi latar belakang pendidikan Sae sebagai inisiator brand ini sangat bertolak belakang. Ia merupakan lulusan Sastra Arab Universitas Padjadjaran.

Namun, meski begitu, ia kerap turun ke lapangan mengikuti beragam kegiatan sosial lingkungan. Inilah yang menjadi inspirasi Sae untuk membuat produk dari sampah plastik.

‘Awalnya dari keresahan. Kalau pulang ke rumah pasti lewatin TPS di pinggir jalan yang selalu penuh. Rasanya kok ganggu banget ya lihat sampah setumpuk itu,’ katanya.

‘Terus pernah ikut kegiatan sosial di Bantar Gebang. Lihat kondisi di sana yang truk sampah tuh tiap menit datang bawa sampah melebihi kapasitas. Saya berpikir, di ibu kota yang harusnya semua serba maju, tapi kok pengolahan sampahnya masih gini ya. Bagaimana dengan daerah lain ?,’ imbuh Sae.

Akhirnya ia pun melakukan riset selama 2,5 tahun untuk mencari tahu cara mengolah sampah plastik agar tetap memiliki fungsi dan bernilai ekonomi.

Sae pun menggaet Yahya yang memiliki latar belakang  pendidikan manajemen. Lalu mengajak Regi yang berasal dari lulusan Teknik Mesin.

Proses pembuatan produk Newhun pun tak bisa dibilang mudah. Mulai dari memilah sampah, mencuci, mencacah, injeksi/melting, cetak, dan merangkai. Bagi Sae, tahapan tersulit adalah saat proses memilah dan mencuci sampah.

‘Sampah plastik itu ada 7 jenis dan harus kita pisahkan sesuai jenis dan warna. Setelah itu dicuci dengan cara manual. Mengeringkannya juga masih manual pakai sinar matahari. Kalau tidak ada matahari, ya bisa sampai dua hari baru benar-benar kering,’ paparnya.

Tidak hanya itu, tantangan pun mereka temukan saat melakukan pencetakan. Alat press yang masih manual membuat pencetakan kerap mengalami kegagalan. Dari 10 produk yang dibuat pada hari itu, lima di antaranya gagal.

‘Seringnya bahan tidak memenuhi isi cetakan. Malah dulu kita pernah dari 10 produk, cuma satu yang berhasil,’ ucapnya sambil menunjukkan tumpukan boks berisi produk yang gagal.

Dari tujuh jenis sampah plastik, biasanya bahan-bahan seperti alat makan plastik sekali pakai, kresek, botol sabun, botol shampo, tutup galon, tutup botol, juga sampah plastik lainnya jenis DPE atau PEDH (High Density Polyethylene), LDPE atau PE-LD (Low Density Polyethylene), PP (Polypropylene), dan PS (Polystyrene) yang sering digunakan untuk membuat produk-produk Newhun.

‘Makin keras, justru makin mudah dicacah. Kalau plastik yang halus itu susah dicacahnya,’ akunya.

Untuk satu item jam tangan membutuhkan 150 gram plastik. Lalu, jam meja memerlukan 150 gram plastik. Sedangkan, jam dinding terbuat dari 500 Gram 0lastik.

Selanjutnya, tatakan gelas, terbuat dari 80 gram plastik. Kemudian, meja berukuran 1×1 meter dengan tebal 20 mm membutuhkan 25 Kg plastik. Lalu, meja dengan ketebalam 10 mm memerlukan 15 Kg lastik.

‘Sehari kalau pake mesin injeksi kapasitas sekarang bisa bikin 14 bentuk. Jam meja bisa bikin 7 item. Jam dinding, jam tangan, meja itu cuma bisa jadi satu per hari. Apalagi jam tangan itu lebih sulit karena produknya detail dengan banyak kontur,’ jelas Sae.

Ia mengaku tak sulit untuk mendapatkan bahan sampah plastik. Bahkan, sampah itu datang dengan sendirinya ke lokasi mereka. Biasanya mereka memperoleh sampah plastik dari orang terdekat dan warga di Kelurahan Cihapit.

‘Tapi kami tidak buka penerimaan sampah karena pasti akan membludak, tempat ini tidak akan cukup,’ tuturnya.

Sae juga mengatakan, rata-rata dalam sebulan Newhun bisa menjual 20 item produk. Namun, jumlahnya masih sangat fluktuatif. Bahkan, ada juga masanya dalam sebulan mereka tidak mengeluarkan barang samasekali.

‘Tapi ada juga yang sekali pesan jam meja itu sampai 70 pcs. Lalu ada yang pesan medali sampai 100 pcs,’ katanya.

Meski usahanya pasang surut, omzet Newhun di tahun 2021 hampir mencapai Rp.100 juta. Bahkan, di tengah tahun ini sudah menyentuh Rp.50 juta.

Untuk kisaran harga produk sangat bervariasi, tergantung dari tingkat kesulitan pembuatan. Produk paling murah adalah tatakan gelas, berada di harga Rp.35.000,-. Lalu, jam meja seharga Rp.149.000,-. Kemudian jam dinding seharga Rp.279.000,-.

‘Kalau jam tangan sekarang ada promo, masih Rp799.000, normalnya di Rp1,3 jutaan. Terus kalau kursi harganya Rp.980.000,-. Meja kotak harganya Rp.1,3 juta dan meja belajar yang lebarnya semeter itu di Rp.1,5 juta,’ papar Sae.

Jika Anda ingin memesan produk Newhun bisa melalui akun instagramnya @newhun.recycle dan Whatsapp. Namun, dalam waktu dekat ini, Sae dan timnya sedang mempersiapkan produk ready stock untuk dimasukkan di e-commerce.

Di akhir perbincangan Sae menyampaikan, untuk memulai sebuah usaha, terutama di bidang seperti yang ia geluti, perlu banyak perhitungan dan persiapan.

‘Harus siap bakar uang apalagi di jenis bisnis kayak gini. Kalau bisnis makanan dan minuman itu bisnis yang cepat. Kalau ini, risetnya juga panjang, prosesnya juga lebih lama. Jadi perhitungannya harus banyak persiapan,’ jelasnya. (din).

 

 

Related Articles

Ini Dia Rahasia di Balik Kemajuan Industri BPD Tanah Air

BANDUNG, BEREDUKASI.COM -- INDUSTRI Bank Pembangunan Daerah (BPD) Nasional tercatat memiliki pertumbuhan kinerja yang baik, sekalipun selama pandemi. Hal ini dapat dilihat dari Pertumbuhan Kredit...

Kembali Edwin Senjaya Ungkap Dua Harapan Bagi Tim Pelatcab PORPROV XIV

KET. FOTO: Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung, Dr. H. Edwin Senjaya, S.E., M.M., dan Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung H. Aries Supriatna,...

‘Hidupku Jariyahku’, Ini Isi Kajian Tematik Edwin Senjaya 

KET. FOTO: Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung, Dr. Edwin Senjaya, S.E., M.M., mengisi kajian tematik bertema "Hidupku Jariyahku", di Masjid Al Kautsar, Jl....

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

Ini Dia Rahasia di Balik Kemajuan Industri BPD Tanah Air

BANDUNG, BEREDUKASI.COM -- INDUSTRI Bank Pembangunan Daerah (BPD) Nasional tercatat memiliki pertumbuhan kinerja yang baik, sekalipun selama pandemi. Hal ini dapat dilihat dari Pertumbuhan Kredit...

Kembali Edwin Senjaya Ungkap Dua Harapan Bagi Tim Pelatcab PORPROV XIV

KET. FOTO: Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung, Dr. H. Edwin Senjaya, S.E., M.M., dan Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung H. Aries Supriatna,...

‘Hidupku Jariyahku’, Ini Isi Kajian Tematik Edwin Senjaya 

KET. FOTO: Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung, Dr. Edwin Senjaya, S.E., M.M., mengisi kajian tematik bertema "Hidupku Jariyahku", di Masjid Al Kautsar, Jl....

Resmikan Ruang Kelas Baru, Tedy Rusmawan Puji Peran Kolaborasi Publik

Resmikan Ruang Kelas Baru, Tedy Rusmawan Puji Peran Kolaborasi Publik KET. FOTO: Ketua DPRD Kota Bandung H. Tedy Rusmawan, A.T., M.M., meresmikan ruang kelas baru...

Edwin Senjaya Tekankan Pentingnya Penata Rias Tekuni Profesi

  KET. FOTO: Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung, Dr. H. Edwin Senjaya, S.E., M.M., menghadiri acara pelatihan tata rias wajah, di Rumah Satis Kota...