FeaturedHiburanPendidikanSD

Mutiara dari Pinggiran: Kepala SDN 228 Cangkuang Suarakan Gotong Royong dan Pelestarian Budaya di Tengah Keterbatasan

BANDUNG, BEREDUKASI.COM – DI balik hiruk pikuk kota, sebuah sekolah di wilayah Perbatasan menyimpan cerita tentang semangat, ketangguhan dan identitas.

Asep Saepudin yang akrab disapa Asbo, Kepala SDN 228 Cangkuang, Kota Bandung dalam sebuah kesempatan, menyampaikan refleksi mendalam tentang Realitas Pendidikan di sekolahnya. Pesannya lugas: di tengah segala keterbatasan, sekolah harus tetap menjadi Ruang Edukasi yang bermakna. Bukan hanya bagi siswa, tetapi juga orang tua dan masyarakat.

Asep Saepudin, Kepala SDN 228 Cangkuang, Kota Bandung.

Kepedulian yang Tak Hanya dari Angka

Salah satu poin utama yang disampaikan adalah soal Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ia meluruskan persepsi Publik bahwa Dana tersebut bukanlah biaya operasional penuh, melainkan bantuan yang jumlahnya sangat terbatas.

“Kalau biaya, pasti full. Ini namanya Bantuan Operasional Sekolah, bukan Biaya Operasional. Jadi, sekolah harus putar otak,” tegasnya.

Ia mencontohkan, ketika ada musibah yang menimpa orang tua siswa. Sekolah tidak bisa hanya mengandalkan Dana yang ada. Dengan cepat, sekolah bersama masyarakat bergerak menggalang Solidaritas.

“Kemarin ada orang tua siswa yang mengalami kecelakaan. Begitu kami posting di Media Sosial, responsnya luar biasa. Masyarakat langsung bergotong royong mengumpulkan bantuan. Ini bukti bahwa nilai-nilai seperti Empati dan Gotong Royong masih sangat kuat. Harta benda mungkin bisa habis, tapi semangat kebersamaan ini tidak akan habis,” ujarnya Asep Saepudin, penuh syukur.

Bantuan yang terkumpul, meski secara nominal mungkin tidak besar, menjadi simbol perhatian yang sangat berarti.

“Total bantuan yang bisa kami salurkan sekitar Rp.5 juta. Uang itu memang tidak seberapa dibandingkan kebutuhan. Tetapi bentuk perhatiannya yang tidak ternilai. Ini menunjukkan, bahwa sekolah dan masyarakat adalah satu kesatuan,” imbuhnya lagi.

Aparat pemerintahan setempat turut hadir.

Menjadi Contoh, Merawat Jati Diri di Tengah Zaman

Pihak sekolah juga terus berupaya memberi contoh, tidak hanya kepada siswa. Juga kepada sekolah lain. Dalam setiap acara, sekolah ini memiliki prinsip untuk tidak menggelar pesta hura-hura. Setiap perayaan, seperti kelulusan, harus dikemas secara bermakna dan bertema.

“Kami hindari acara yang sekadar hura-hura. Setiap kegiatan harus punya Judul dan Pesan yang jelas. Ini adalah salah satu cara kami menanamkan nilai-nilai,” katanya.

Tiga siswi pemeran dalam Drama Sendratari yang mengedukasi.

Salah satu identitas kuat yang terus diangkat adalah Kearifan Lokal Sunda. Sekolah ini berkomitmen untuk menanamkan kebanggaan terhadap Budaya sendiri di tengah gempuran modernitas.

“Kami rutin menggelar acara bertema Kasundaan, lengkap dengan Tarian dan Busana Daerah Sunda. Ini penting agar anak-anak tidak lupa jati dirinya. Sekolah bukan hanya tempat mencari Ilmu, tapi “Ngajaga Jati Diri (Menjaga Jati Diri) orang Sunda,” tegasnya.

Tampilan Pantun dengan Tiga Bahasa, Indonesia, Inggria dan Sunda.

Harapan untuk Pendidikan yang Lebih Adil dan Diperhatikan

Di akhir perbincangan, Asep Saepudin menyampaikan harapannya yang mendalam kepada para Pemangku Kebijakan. Ia berharap perhatian terhadap sekolah-sekolah, terutama yang berada di Wilayah Perbatasan Kota/Kabupaten, bisa lebih ditingkatkan.

“Sekolah kami ini ibaratnya di sisi tepi, perbatasan antara Kota dan Kabupaten. Terkadang, perhatian dari Dinas terasa kurang. Harapan saya, ke depan, pemerataan ini bisa lebih serius diperhatikan. Karena secanggih apa pun Kurikulumnya, kalau tidak ada perhatian dan dukungan nyata dari semua pihak. Pendidikan tidak akan berhasil. Nilai Utama yang ingin kami bangun bukan hanya Kecerdasan, tapi juga Kemandirian dan Karakter. Itu “Kunci” agar sekolah dan Pendidikan terus berkembang,” tegasnya.

Tampilan Seni Angklung.

Pesan dari Kepala SDN 228 Cangkuang, Kota Bandung ini. Menjadi pengingat bahwa di balik setiap sekolah. Ada perjuangan hening para Pendidik dan masyarakat untuk terus menyalakan lentera pengetahuan. Dengan mengandalkan kekuatan Gotong Royong dan Akar Budaya Sunda yang kuat.

Sesuai dengan komitmennya, tidaklah mengherankan ketika digelarnya acara “Pelepasan Siswa Kelas VI SDN 228 Cangkuang Tahun Angkatan 2025/2026” dengan tagline “Melepas Langkah Mengukir Masa Depan” ini.

Gelaran acara yang disajikan pun, tidak lepas dari Seni Budaya Sunda diantaranya menyuguhkan Drama Sendratari yang diperankan oleh tiga siswi dengan luwes dan lugas. Bercerita tentang tiga anak perempuan yang tengah asyik bermain. Ketika Adzan berkumandang, anak-anak masih tetap asyik bermain. Namun tiba-tiba salah satu anak, seperti yang keraksukan setan. Akhirnya tiga siswi ini sadar dan harus segera menjalankan ibadah Shalat.

“Ini bagian dari Edukasi untuk para peserta didik dan untuk kita semua yang Muslim. Bahwa ketika Adzan berkumandang, segera berhenti dari berbagai kegiatan dan bersiap untuk melaksanakan Shalat,” tandas Asep Saepudin alias Bapak Asbo, sambil bercanda tapi menggugah hati.

Dilanjutkan dengan tampilan Seni Musik Angklung, Sisindiran, Pantun yang ditampilkan dengan Tiga Bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Inggris dan Sunda. Tidak ketinggalan juga disediakan lokasi Photo booth.
(HKS).

Related Articles

Back to top button