21.4 C
Indonesia
Thursday, 29 September 2022
spot_img

Pendapat Para Pakar, Waspada Bahaya BPA Memicu Kesehatan Otak

JAKARTA, BEREDUKASI.COM — SEJUMLAH Pakar Kesehatan mengingatkan perlunya masyarakat mewaspadai bahaya Bisphenol A atau lazim disebut BPA. Para ahli kesehatan tersebut menilai edukasi kepada masyarakat mengenai hal ini masih kurang.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Saresehan ‘Upaya Perlindungan Kesehatan Masyarakat’. Yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang digelar di Hotel Shangrilla, Tanah Abang, Jakarta belum lama ini.

‘Para pakar sepakat, BPA dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Diantaranya kanker, kesehatan otak, autisme, kelenjar prostat, juga dapat memicu perubahan perilaku pada anak. Tak ada dampak yang ringan akibat BPA,’ ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, menanggapi pandangan para pakar tersebut.

Tampil sebagai membicara antara lain; Prof Dr Andri Cahyo Kumoro, Guru Besar Fakultas Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Diah Ayu Puspandari, dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (Pusat KPMAK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, serta Prof. Junaidi Khotib, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, pakar dari Universitas Indonesia dan dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Lebih lanjut, jelas Arist, di luar negeri, senyawa BPA sudah tidak digunakan lagi. Karena terbukti berbahaya bagi kesehatan.

‘Menurut US Food dan Drug Administration, BPA memicu masalah kesehatan di otak. Jadi kita merasa bahwa materi diskusi di acara saresahan tersebut perlu disampaikan ke masyarakat agar masyarakat tahu,’ ujarnya.

Saat ini semakin banyak informasi terkait keamanan BPA pada kemasan plastik polikarbonat (PC) yang berdampak pada kesehatan. BPA merupakan salah satu bahan penyusun plastik PC kemasan air minum dalam galon yang pada kondisi tertentu dapat bermigrasi dari kemasan PC ke dalam air yang dikemasnya.

BPA bekerja atau berdampak kesehatan melalui mekanisme endocrine disruptors atau gangguan hormon khususnya hormon estrogen. Sehingga berkorelasi pada gangguan sistem reproduksi, diabetes, obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, perkembangan kesehatan mental, autism spectrum disorder (ASD) dan pemicu Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Salah satu pembicara, Diah Ayu Puspandari, telah melakukan penelitian terkait dampak dari kandungan BPA dalam AMDK. Paparannya disampaikan dalam saresehan Upaya Perlindungan Kesehatan Masyarakat tersebut.

‘Paparan BPA berkontribusi 4,5 kali lebih besar memicu infertilitas dan data-data lain terkait kejadian infertilitas di Indonesia,’ ungkap Diah.

Sementara pembicara lainnya, Prof Juanidi Khotib, mendorong penelitian yang bermanfaat. Tugasnya menyediakan data berbasis sain untuk digunakan bagi dukungan kebijkan yang berpihak pada masyarakat.

‘Dari kajian yang dilakukan terjadi pelepasan atau migrasi partikel BPA ke makanan atau minuman yang bersinggungan langsung dengan kemasan primer. Sehingga partikel BPA dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman tersebut,’ papar Junaidi Khotib.

Konsentrasi BPA dalam darah dan urin, kata Junaidi, sangat erat dengan berbagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan Endokrin. Yaitu gangguan pada hormonal sistem, perkembangan saraf dan mental pada anak-anak.

Sementara Arist tetap fokus Point of View- nya dari kesehatan anak – anak. Itu sebabnya, Arist lebih keras berjuang agar Pemerintah atau masyarakat tahu tentang bahaya BPA. Salasatunya dengan mendukung upaya BPOM melakukan Perubahan Kedua atas Perka No 31 Tahun 2018 Tentang Label Pangan Olahan.

‘BPA bagi orang dewasa saja dapat memicu kanker. Apalagi bagi anak-anak atau bayi, balita dan janin. Di mana bayi, balita dan janin itu belum mempunyai sistem imun. Dengan hadir di saresahan ini kita jadi lebih takut,’ tandas Arist.

Menurut Arist lagi, ternyata BPA lebih berbahaya dari yang diperkirakan sebelumnya. Berdasarkan pemaparan para pakar lain BPA dapat mengkontaminasi air susu ibu bahkan saat bayi masih jadi embrio.

Komnas Perlindungan Anak, kata Arist, akan terus mengkampanyekan bahaya BPA. Apalagi ini yang bicara dari pakar yang sangat mumpuni.

Peluang BPA meracuni masyarakat bukan saja saat proses pendistribusian. Tapi saat dipajang di toko-toko juga dapat memicu migrasi BPA ke air.

‘Salasatu dampak BPA saja sudah mengerikan. Satu aja sudah bisa membuat fatal, apalagi kalau banyak. Oleh sebab itu kita tidak boleh bersikap gegabah dan meremehkan BPA ini,’ tutur Arist menutup..(Eddie Karsito).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU