FeaturedRagam

PSGA Harus Jadi Garda Terdepan Penguatan Ketahanan Keluarga…..!

0

Bandung, BEREDUKASI.Com — KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menilai perlunya peran orang terdekat untuk mengatasi kecanduan anak pada “Gawai”. Karen pada saat KPAI membuka layanan pengaduan bagi anak yang diduga kecanduan “Gadget” di bulan Januari 2018, baru dua hari dibuka, sudah menerima sekitar 10 laporan anak kecanduan “Gawai”.

Adanya kasus-kasus anak yang kecanduan “Gadget” ini harus jadi perhatian civitas akademika dalam mendidik dan membangun keluarga di tengah-tengah Era Revolusi Industri 4.0.

Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Asep Muhyidin, M.Ag, saat membuka Workshop Gender dan Anak bertajuk “Keluarga Masa Depan Perspektif Islam” yang diselenggarakan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN SGD Bandung di  Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor, Sumedang, beberapa waktu lalu

Mohamad Udin, S.Sos, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak (KPPPA) dan Ala’i Nadjib, M.A., Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tampil sebagai pembicara Workshop Gender dan Anak yang dipandu oleh Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag.

“Saya mempunyai cucu, terkadang supaya anak tidak menggangu aktivitas orangtuanya diberikanlah “Gadget”. Lama-lama kecanduan HP. Hal ini menjadi sisi negatif dari kehadiran teknologi informasi, internet yang justru dapat merusak masa depan keluarga. Dengan banyak kasus anak yang ketagihan gadget. Padahal banyak sisi positif dari internet. Karena itu, gunakan dan manfaatkan teknologi informasi untuk hal-hal yang baik,” tegas Wakil Rektor I.

Pihaknya menambahkan Islam mengatur model keluarga muslim dengan memegang teguh prinsip Tawajun (keseimbangan), Taawun (kerjasama), saling memberi, melengkapi yang mengedepankan kewajiban daripada menuntut haknya.

Caranya dengan meneladani keluarga Lukman yang termuat dalam Alquran surat Lukman dari ayat 12-19.

“Model Pendidikan Keluarga Lukman ini, harus direnungkan dan dijadikan teladan bersama dalam membangun karakter keluarga Qurani,” jelasnya.

“Untuk masalah anak yang kecanduan “Gadget”, sebaiknya para orangtua bisa mengarahkan, membimbing, mendampingi dan mengajak anak-anaknya untuk terus belajar agama, etika, kesopanan dengan memanfaatkan teknologi informasi,” pesannya Wakil Rektor I.

Ala’i Nadjib mejelaskan, evolusi industri 4.0  keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Ruang publik dan domestik barangkali nanti akan tidak lagi menjadi perdebatan saat Revolusi Industri 4.0.

Era digital ini ditandai tidak ada lagi sekat publik dan domestik, karena manusia menjadi bebas mengatur dirinya dari keterikatan formal struktural. Era ini menurut Rheinal Kasali akan ada Disrupsi (Perubahan) fenomena kehidupan masyarakat.  Perubahan dari konvensional menuju yang digital. Termasuk di dalamnya  transaksi dan pasar digital.

Bagi perempuan, era digital ini sebenarnya membuat perempuan lebih flexible mengatur waktunya.

“Jika dahulu ranah aktualisasi perempuan selalu dihubungkan dengan kesempatan keluar rumah, jarak menjadi batasan. Maka era ini memungkinkan perempuan bekerja dari rumah,” paparnya.

“Pada dasarnya pola asuh adalah suatu sikap dan praktek yang dilakukan oleh orang meliputi cara memberi makan pada anak, memberikan stimulasi, memberi kasih sayang agar anak dapat tumbuh kembang dengan baik,” jelas Mohamad Udin S.Sos.

Menurutnya, anak yang saleh tidak dilahirkan secara alami.

“Mereka memerlukan bimbingan dan pembinaan yang terarah dan terprogram,” pungkasnya. (MIF)

admin

Komunitas Semah Hadir Untuk Mewadahi Kegiatan Sosial Dari Masyarakat Untuk Masyarakat…….!

Previous article

Halal Bihalal Forwan…..!

Next article

You may also like

More in Featured