22.4 C
Indonesia
Saturday, 3 December 2022
spot_img

“Nurani Soyomukti” Terus Menulis dan Membangun Gerakan Literasi…!

Trenggalek, BEREDUKASI.Com — MENULIS bagi Nurani atau yang lebih dikenal dengan “Nurani Soyomukti adalah nafas hidupnya. Kini sudah puluhan buku ia tetaskan dan tersebar diantaranya “Literasi Sampai Mati, Jalan Progresif  Membaca Menulis dan Demokrasi Parsipatoris”, “Trenggalek Southern Paradise..?”, “Pengantar Ilmu Komunikasi dan Studi Media, Pendidikan Berperspektif Globalisasi” dan lain-lain.

Pria kelahiran Trenggalek, Jawa Timur tgl 9 September 1979 ini. Sempat menjadi Juara Umum I Lomba Esai Pemuda 2007 oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Nominator Lomba Penulisan Esai AHMAD WAHIB AWARD, Freedom Institute-LP3ES Jakarta-HMI Cabang Ciputat, Jakarta 20 Mei 2003, Juara I Lomba Artikel Ilmiah Keagamaan UPT. BS Mata Kuliah Umum Universitas Jember, 28 Mei-11Juni 2001, Juara I Lomba Tulis Artikel Ilmiah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)  Rayon Ekonomi Cabang Jember, Jember 11 Mei 2000 dan lain-lain.

“Saya ingin mendapatkan peran sesuai kemampuan, terus menulis dan membangun gerakan Literasi. Dan membesarkan anak yang sekarang berusia 6 dan 4 tahun,” ucapnya.

Berbicara soal cita-cita, penghobi menonton film, membaca dan menulis ini. Berkata bahwa saat SMP ia pernah ingin menjadi tentara. Saat SMA ingin menjadi Sastrawan dan saat kuliah ingin menjadi Wartawan.

“Saat ini saya tengah menjadi Komisioner di KPU Kabupaten Trenggalek, menangani Pendidikan Pemilih dan Sumber Daya Manusia. Dan mempunyai kegiatan sosial menjadi bagian dari Gerakan Literasi, terus menulis, sudah 30-an buku yang saya tulis dan diterbitkan penerbit-penerbit Yogya, Jakarta, Bandung, Malang, Lamongan dan lain-lain,” ulas penfavorit warna merah dan penikmat Lodho Trenggalek, makanan sehat dan yang terbuat dari Ketela.

Pemilik motto Dzikir, pikir dan amal soleh” ini.  Sekarang tengah mengelola Taman Bacaan di rumah, ngajarkan anak-anak nulis dan kampanye  budaya baca.

“Untuk sosok idola untuk saya adalah Ibu, karena perjuangannya,” ucapnya.

Sementara itu untuk tokoh dalam sejarah, Nurani melanjutkan bahwa ia mengagumi Tan Malaka. Karena mengabdikan hidup untuk revolusi kemerdekaan, melawan penjajah melebihi tokoh lainnya. Dan seorang yang suka membaca, menulis serta memperjuangkan kemanusiaan.

“Adapun hal yang menginspirasi adalah saat remaja hingga berkuliah. Banyak orang yang menginspirasi saya, mulai senior kuliah, dosen dan aktivis gerakan dan masih banyak lagi,” terang lulusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jember tahun 2004 lalu.

Bagi Nurani, hidup adalah dimana ia yang masih memiliki nyawa. Harus memerankan diri secara maksimal dan hidup juga perlu dipahami.

“Saya suka kutipan kata dari Socrates yang menyatakan bahwa hidup yang tak dijelaskan adalah  yang tak layak dijalani,” ucapnya.

Bungsu dari dua bersaudara ini juga menambahkan, bahwa semangat dalam hidupnya adalah dorongan bahwa ia harus memiliki peran sebagai manusia.

“Bahwa kita harus menciptakan kehidupan lebih baik, untuk generasi mendatang. Karena kita harus merawatnya dan membuatnya lebih maju,” pungkasnya yakin dengan optimis sore itu. (Tiwi kasavela)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERBARU